Selasa, 15 Oktober 2013

Hendri kecil dan daging Kurban

Saat hari raya Idul Adha seperti ini saya selalu teringat kejadian waktu saya SD dulu. Jaman dulu orang berkurban tidak banyak. Di lingkungan warga (RW) tempat tinggal saya dulu paling banyak hanya menyembelih 4-6 ekor kambing untuk 1 RW. Keluarga saya adalah keluarga yang belum mampu untuk berkurban tetapi juga bukan keluarga yang berhak mendapatkan jatah daging kurban.

Di suatu idul adha saya bertekad membantu panitia penyembelihan hewan kurban yang kebetulan adalah guru ngaji saya dengan sedikit harapan ikut mendapat jatah daging kurban. Akhirnya saya dan teman2 yang lain kebagian untuk mencuci jeroan kambing di sungai. Setelah dibagi bagi ternyata tidak ada secuilpun daging kurban yang diberikan kepada saya. Akhirnya sayapun pulang ke rumah dengan menangis. Bapak saya tidak tega melihat saya menangis, akhirnya beliaupun membelikan saya 10 tusuk sate kambing.

Tapi jaman sekarang sudah berubah. Orang yang mampu berkurban semakin banyak. Idul adha sudah menjadi pesta besar bagi semua orang, sate dan olahan daging hamper pasti tersedia di meja makan setiap rumah.

Kamis, 03 Oktober 2013

Green Area (2)

Catatan Perjalanan "Green Area" (2)
Saya terbangun saat pak Zakaria sedang mengikuti Sinar Mandiri yang sedang melaju kencang di daerah Rembang. Saat di depan terlihat mulai ada penumpukan kendaraan karena kemacetan, Sinar Mandiri langsung mengambil jalur kanan. Ternyata pak Zakaria malah ikut membuntuti bus dari Restu group yang terkenal sebagai raja jalanan Jalur Surabaya - Semarang itu. Hasilnya dua bis berwarna dominan hijau ini mampu melewati bis Hijau lain Gunung Harta yang terjebak di kemacetan. Lepas kemacetan ternyata pak Zakaria masih meladeni gaya si Sinar Mandiri, aksi goyang kanan kiri melibas truk2 yang memadati jalan ditunjukkan dua bis beda kelas ini. Tidak berapa lama kemudian terlihat pantat pemain jalur Surabaya – Semarang lainnya, si Widji Lestari. Meski hanya bermodalkan mesin Hino RKT terlihat si Widji itu sangat mengenal medan. Puluhan truk yang memadati jalur Rembang Pati bisa dilibas dengan permainan sein yang cukup cantik. Si Sinar Mandiri ternyata tidak sabar hanya bermain main dengan bus2 ber AC yang ada di depan dan di belakangnya. Saat jalanan semakin rapat dengan truk, bumel ini malah langsung melesat meninggalkan Widji Lestari dan busku. Cukup lama juga pak Zakaria bermain main dengan Widji, jalanan cukup padat dan tanpa separator membuat aksi kedua bus ini terlihat cukup menarik. Saat jalanan mulai agak lenggang tampaknya si Widji tau diri, mesin Hino RKT miliknya tidak mungkin bisa menandingi OM 906 LA milik LE 441, akhirnya diapun memberikan jalan kepada kami untuk mendahuluinya.
 
Lepas dari Widji paka Zakaria masih konstan dengan kecepatannya. Jarum speedometer stabil di angka 80-90 Km. Tidak lama setelah melewati alun2 kota pati terlihat lampu belakang dari Galaxy milik Malino Putra. Iya itu bus Malino Putra yang tadi ketemu di rumah makan Taman Sari. Bus berkode MPR 03 dengan trayek Malang – Jakarta itu seakan sadar ada lawan mengintai di belakangnya. Ia pun langsung berlari menghindar dari kejaran si Ijo bisku. Pak Zakaria gak mau kalah, secepat apapun si Malino berlari, dia terus berusaha mengejar. Sekitar 5 menit kejar kejaran akhirnya si Malino menyerah juga. Tidak cukup dengan Malino Pak Zakaria juga melibas bus Pariwisata Indah Jaya, dan Kramat Djati D 7580 AE yang tadi juga bertemu di Taman Sari.
 
Saya sedikit melewatkan aksi LE 441 ini di ruas Kudus sampai Semarang. Handling yang smooth dari Pak Zakaria membuat saya terlelap dan baru terbangun saat bus berhenti cukup lama di Agen Semarang. Sepertinya mas kernet sedang melakukan unloading paket. Ini salah satu kelemahan dari Lorena, busnya kebanyakan bawa paket. Hasilnya setiap berhenti di agen jadinya lama, hehe. Padahal dah punya bus paket sendiri ya? *#:-S whew!Hasilnya KD dan Malino yang tadi dah tercecer di belakang kembali berada di depan.
 
Weleri, Batang, Pekalongan, Pemalang lingkar kemudi masih di tangan Pak Zakaria, kecepatan bus ini juga masih cukup konstan di angka 80-90 Kpj. Asyik bisa masuk Jakarta sebelum jam 10 pagi ini batinku. Jam 02.05 sampailah LE 441 ini di SPBU Muri di Tegal. SPBU ini tampaknya menjadi tempat kontrolan bagi pasukan pasukan Ijo yang mengarah ke Barat. Busku mendapat limpahan penumpang tujuan pulau Sumatera dari KE 551 dari Sumenep. Butuh waktu 30 menit bis ini untuk berhenti di SPBU dengan toilet terbanyak di Indonesia itu. Saat Pak Suparno membawa bus ini melewati kota Brebes tampak lampu belakang jetbus milik Akas Asri. Semoga pak Suparno terlecut untuk mengejar saingannya dari Jember itu, harapku J. Setelah bus asli probolinggo tersebut sempat menjauh ternyata LE 441 mampu juga mendekat. Keduanyapun beriringan layaknya teman seperjalanan. Iring-iringan dua bis yang sama-sama start dari Jember ini terpisah di pertigaan rel KA Pejagan. Akas memilih lurus menuju Kanci sedangkan busku belok kiri menuju tol Pejagan.
 
Jam 05.20 Pak Suparno membelokkan bus ini masuk ke rumah makan Taman Sari 2 di Pamanukan. Di sana sudah terparkir 3 bus Harapan Jaya. Lumayan masih bisa sholat shubuh dan unloading isi perut.. hehe. Cukup lama bus ini berhenti, crew baru naik bus saat jam menunjukkan pukul 06.10. Hmm 50 menit waktu yang dibutuhkan untuk istirahat pagi, jelas itu pemborosan waktu.. *~X( at wits' end. Sampai di Cikopo bus ini kembali berhenti di agen untuk loading paket, kontrol dan tukar-tukar penumpang. Lagi waktu 25 menit harus terbuang disini. *~X(
 at wits' end*~X( at wits' end. Saat berhenti terlihat 2 PK nano nano, KD, Malino Putra, dan Akas Asri melewati kami.
Sample picture
 
Pak Zakaria kembali mengambil alih lingkar kemudi di etape terakhir ini. Style mengemudi bapak satu ini memang cukup trengginas, beliau terus memacu tunggangannya dengan cepat dan halus. Beliau juga tidak segan-segan mengambil jalur paling kanan yang sebenarnya terlarang buat bus. Saat kemacetan badan jalan juga kadang-kadang diambil untuk secepat mungkin masuk Jakarta. Aksi pak Zakaria tersebut mampu menyingkirkan kembali Malino Putra, PK 7698 IZ, Harapan Jaya. Bahkan saat harus sodok menyodok di gerbang tol Halim LE 441 ini berhasil melewati mantan second strikernya Poris Haryanto Phoebus, HR 29 yang sekarang bertugas untuk trayek Sumenep – Jakarta.
 
Akhirnya jam 09.40 LE 441 ini merapat di agen Lorena di jalan Pemuda di depan kampus Universitas Negeri Jakarta, Rawamangun. 50% penumpang bus ini yang bertujuan pulau sumatera turun disini. Hanya penumpang tujuan akhir Rawamangun, Bogor dan Pekanbaru yang masih terus berada di dalam kabin. Iya 50 % penumpang bus ini adalah penumpang tujuan pulau Sumatera. Rupanya ini toh yang membuat lorena masih menjadi numero uno di Jember dst. Dengan Lorena untuk menuju Sumatera mereka cukup sekali beli tiket dan langsung diantar dengan sampai tujuan. Karena proses unloading yang cukup lama dan ada taksi biru parkir dekat dengan lokasi unloading ini sayapun memutuskan mengakhiri perjalanan di sini. Saat putar balik menuju tol dalam kota, terlihat Akas Asri yang baru mengarah menuju Rawamangun. Hmm bisa 15 menit lebih cepat dari Akas ternyata, lumayanlah.. hehehe
 
Sebelum berpisah saatnya saya akan beri penilaian terhadap bus ini. Waktu tempuh tidak mengecewakan, masih bisa bersaing dengan PO2 yang terkenal dengan kecepatannya. Duet driver senior dengan skil yang yahud menjadi sisi positif dari LE 441 ini. Kesigapan dari asissten driver juga patut diacungi jempol. Setiap berhenti istirahat asisten driver selalu bisa membuat kabin bus menjadi bersih dan wangi, air toiletpun tidak pernah kehabisan. Sedangkan lamanya waktu pemberhentian sedikit mengurangi nilai dari PO ini. Untuk bus dengan kelas eksekutif saya rasa kombinasi seat 8 baris kiri dan 9 kanan plus smooking room membuat kesan bus ini terkesan kurang nyaman.
(Sekian)

Green Area (1)

Catatan Perjalanan "Green Area"
Setiap hari PO ini selalu memberangkatkan 5 bus, 2 bus dari Banyuwangi, 2 bus dari Jember dan 1 bus jurusan Banyuwangi - Lampung. Saya heran, disaat PO ini sudah mulai ditinggalkan penggemarnya di kota2 lain (pulau jawa) tapi kenapa masih bisa menjadi numero uno di daerah sini. Rasa penasaran itulah yang membuat saya bertekat ingin kembali mencoba service PO yang pernah menjadi legenda di tanah air kita ini. Meskipun saya harus mengesampingkan sensasi pelari cepat dari armada-armada ombak biru Pahala Kencana, atau seat lebar nan empuk by aldilla dengan konfigurasi 7 baris milik Akas Asri. Pilihan lain yang saya tepis adalah tebak tebak buah manggis armada gado2 milik OBL, atau ayunan lembut suspensi MB 1626 milik Rosalia Indah.

Memilih PO ini sebenarnya penuh dengan perjudian. Beberapa kali saya mendengar PO ini menggunakan armada terbaru mereka Mercedes Benz O 500R 1836 untuk trayek Jember/Banyuwangi. Tapi tidak jarang juga saya melihat bus ini baru memberangkatkan penumpangnya jam 3 sore dengan armada2 cooler berbody RS yang sudah bulukan. OK lah, sekali kali kita perlu juga berjudi , jika beruntung kemewahan dari armada Mercedez benz OH 1836 akan didapat jika tidak maka MB OH 1521 bulukan akan siap menjadi bulan-bulanan bus2 malam lainnya.. hehehe

Minggu, 29 September 2013

Dengan sedikit tergesa gesa saya menuju pool PO yang ber tag line "Sabar Sopan Senyum" ini. Jam sudah menunjukkan pukul 10.55 artinya kurang 5 menit dari jadwal yang tertera di tiket. Sampai di depan pool terlihat sebuah bus berwarna hijau putih berbody marco dengan stiker Mercedez Benz 1725 Euro 2 sedang parkir. Kode di kaca depan bertuliskan LE 441. Kontan saja badan saya jadi lemas. Saya langsung membayangkan 24 jam di atas cooler dan menjadi bulan bulanan bis-bis lain. Lapor ke kantor, saya langsung diminta naik. Begitu masuk kabin kembali petaka saya dapatkan. Kabin bus ini terlihat begitu sempit dengan kombinasi seat 8 baris kiri dan 9 balis kanan plus smooking area. Seat berwarna hijau bertuliskan “Fainsa” yang dipakai juga terasa sempit dan tipis. Asyem, tiket mahal seharga 325 rb hanya ditukar dengan dengan bus tua dengan seat yang mefet. Kekesalan ini sempat saya lontarkan di media sosial yang langsung dapat respon dari rekan2 bismania lainnya.

Tiket PO ini memang paling mahal diantara kompetitornya. Akas hanya membandrol trayek Jember Jakarta dengan 280 rb, OBL 300 rb, dan Rosin 315 rb. Pahala Kencana (PK) saya kurang tau, biasanya gak jauh beda dengan si Ijo ini tapi tidak pernah lebih mahal. Kekecewaan saya sedikit terobati dengan jadwal keberangkatannya yang on time. Jam 11.05 bus ini sudah bergerak meninggalkan pool. Dengan kawalan petugas kantor cabang Jember bus ini diarahkan ke SPBU dekat terminal tawang alun Jember. Terlihat Akas Asri masih standby di agennya. OBL belum nampak, dan saat saya berangkat tadi PK bisnya belum nongol di agennya. Di SPBU yang juga sering menjadi tempat menginap bus2 yang tidak punya garasi di jember ini si Ijo menegak solar sebanyak 100 liter. Struk pembelian solar dibawa oleh petugas agen Jember yang turun begitu bis ini kembali lewat depan agen. Apakah ini yang dimaksud dengan solarnya dijatah? :-)

Zakaria, begitulah nama yang tertulis di seragam driver 1 bus ini. Pria paruh baya itu membawa New Marcopolo ini dengan halus. Lho cooler suspensi ini kok terasa keras? Tarikannya kok cukup responsif? Jangan-jangan ini bukan MB 1521, pikirku. Kuperhatikan detail dashboard bus ini, stirnya agak kecil. Hmm OH 1525 nih kayaknya. Saat bus ini berhenti di Agen Lumajang saya sempatin untuk turun dan melihat overhang depan bus ini, tidak salah lagi ini MB 1525.. hehehe. Ternyata stiker 1725 yang membuat saya langsung ill feel dan langsung mencap bus ini sebagai cooler yang merupakan spesies terbanyak di PO ini. Saya juga sedikit tertipu oleh overhang depan sebelah kanan bus ini. Karena tidak ada pintu driver membuat samar tampilannya. Dah hampir 3 tahun menjadi bismania ternyata masih saja belum bisa mbedain 1521 dan 1525... hehehe

Sample picture
Gaya mengemudi pak Zakaria membuat saya sedikit optimis bus ini tidak akan menjadi bulan bulanan bis bis lainnya. Di jalur Jember Lumajang bis ini beberapa kali di pacu sampai 90 Kpj. Di jalur lumajang Probolinggo nampak pak Zakaria juga berani menempel rapat truk truk yang gak kuat menanjak untuk selanjutnya mendahuluinya begitu kesempatan datang. Di jalur Probolinggo – Pasuruan mercy elektrik ini juga mampu mengasapi Restu dan Tentrem odong-odong serta patas Ladju.

Di Pasuruan terjadi pergantian driver. Pak Suparno yang baru naik bis ini di daerah Grati langsung bertugas dibelakang kemudi. Gaya mengemudi driver yang juga sudah senior ini tidak kalah halus dengan Pak Zakaria. Jam 15.10 bus masuk tol Porong. Catatan waktu yang cukup cepat menurutku, karena rata2 bus bus dari Jember baru masuk tol porong sekitar jam 15.30 – 16.00. Jarangnya bis ini berhenti di agen2 kecil membuat waktu tempuhnya cukup baik. Di tol Porong – Surabaya sampai gresik LE 441 ini berjalan selayaknya bus malam bertrayek jauh. Angka 100 sering ditunjukkan jarum speedo meter. Sepertinya bis ini bisa bersaing dengan bus2 jurusan Jatim– Jakarta lainnya, batinku .. hehe.

Akhirnya jam 15.50 LE 441 ini keluar tol Gresik. Masuk terminal bunder, lalu isi BBM. Lumayan perjalanan sampai Lamongan belum ada satu bispun yang mampu mendahuluinya, bahkan di daerah Duduk Sampean B 7706 IV ini mampu melewati bumel Sabar Indah. Lepas Lamongan gaya asli Lorena masa kini dari B 7706 IV ini mulai keluar. Jarum speedometer tidak pernah sekalipun menyentuh angka 80 Kpj. Sepertinya 60-70 Kpj adalah angka keramat yang harus dipertahankan. Mudah-mudahan saja bis2 Surabaya, Malang, Madura pada berhenti di agen2 sepanjang Lamongan, Babat sampai Tuban, sehingga singgasa bus ini tidak ada yang merebutnya, *:D big grin . Doa saya ternyata terkabul sampai finish di Rumah Makan Taman sari di Tuban, keperawanan si LE 441 masih bisa terjaga. Hanya truk2 berdaya 120-130 PS yang berkali2 mengasapi moncong si marcopolo ini.. hehehe
 

Di rumah makan ini telah terparkir Gunung Harta, Malino Putra Galaxy exl MPR 03, dan Kramad Djati Malang - Bandung. Kok mbak KD ada di taman sari ya? biasanya di RM Mitra, apakah sudah pindah ke lain hati, seperti saat pindah dari pelukan Anang Hermansyah ke Rahul Lemos? Xixixixi. Tidak berapa lama kemudian menyusul temannya LE 421 cooler body RS. Cukup lama si marco ini berhenti di Taman Sari ini, sampai semua bus yang saya sebutkan tadi berangkat busku masih saja santai di parkiran rumah makan. Bis ini baru bergerak dari Rumah makan saat Gunung Harta yang tadi sudah jalan sekitar 15 menit harus kembali ke rumah makan karena 1 penumpangnya tertinggal di Taman Sari. Hehehe, pasti sang kernet itu bis dimarahin habis sama drivernya. Jam saat itu menunjukkan pukul 18.30, lingkar kemudi kembali di tangan Pak Zakaria. Saya terus menunggu aksi pak Zakaria di malam hari, semoga lebih greget daripada yang ditunjukkan tadi siang. Tapi sampai masuk perbatasan Jatim - Jateng kok masih memble aja, masih khas lorena jaman sekarang.. wkkkkk, akhirnya sayapun tertidur, *I-) sleepy
 
(bersambung)