Berawal dari tugas ke Semarang & Salatiga sekitar April 2010, dimana saat itu aku masih tinggal di Sidoarjo sedangkan istri di Ciledug - Tangerang. Menjalani hidup sebagai commuter Sidoarjo - Jakarta - Tangerang lebih banyak kulewati dengan burung besi berkonsep LCC maupun ular besi. Citilink, Air Asia, Lion Air, Sembrani dan Gumarang terasa begitu akrab dengan weekendku. Bahkan web Semboyan 35 merupakan salah satu web yang sering kukunjungi di saat waktu senggang, meskipun aku belum pernah tergabung di dalamnya. Tugasku ke tengah pulau jawa itu selesai sehari sebelum long weekend, jadi tidak mungkin rasanya aku harus balik ke Sidoarjo. Berpisah dengan rekan-rekan kerja yang lain di perbatasan Salatiga dan Kabupaten Semarang. Disini aku bingung harus naik apa ke Jakarta. Dengan bermodal HP N*k*a boncel yang alhamdulillah sudah bisa mengakses GPRS akhirnya aku menemukan jawabannya, "iya" ke terminal Bawen untuk selanjutnya mencari bus tujuan Jakarta.
Setelah bernego dengan mas agen segala macam bus (jualan utamanya sih patas Ramayana) akhirnya aku memilih Kramad Djati kelas VIP untuk tujuan Lebak Bulus. Sempat bingung kelas VIP itu apaan? yang aku tau selama ini ya cuma ekonomi, ATB, Patas, Exe, dan SE.. ndeso hehe. Kramat Djati menjadi pilihanku saat itu karena yang ada di benakku bis tujuan Jakarta itu ya cuma Lorena, Pahala Kencana, Safari Dharma Raya dan Kramat Djati (maklumlah di Jember adanya cuma itu..hehe). Sambil menunggu jadwal keberangkatan yang masih sekitar 3 jam lagi, kuteruskan penelusuranku ke dunia maya mengenai alat transportasi yang akan mengantarku ke Ibukota tersebut. Sebuah tulisan berjudul "Gajah Sprinter, jagonya sprint" begitu memikat hatiku (Catatan perjalanan dari Didik Edhi di www.bismania.org). Ternyata ada juga ya orang yang begitu mengenal spesifikasi bus, dan sangat menikmati perjalanannya. Terus terang sampai saat itu bis masih merupakan alternatif terakhir jika alat transpotasi lainnya gagal kudapatkan, entah itu karena kehabisan tiket atupun harga tiketnya yang tak terjangkau. Sebenarnya aku sudah beberapa kali merasakan Ngebis jarak jauh, Lorena (Jember - Jakarta), Safari Darma Raya (Jember - Jakarta), Mawar (Surabaya-Jakarta), Akas/Mila (Jember-Jogja) dan yang paling spektakuler Jember - Bengkulu dengan Damri kelas Ekonomi saat masih kuliah dulu, tapi semuanya tidak bisa kunikmati seperti sang pujangga yang sedang ada di kabin Gajah Sprinter tersebut.
Mencoba mencari jawaban dengan bantuan konsep bertanya "5 mengapa?" kesimpulan yang bisa kuambil adalah "mungkin karena mengerti banyak tentang dunia perbisan makanya sang pujangga yang menunggangi gajah sprinter tersebut bisa menikmati perjalanannya". Hampir 4 jam aku menelusuri dunia maya yang mengupas tuntas dunia perbisan tersebut. Tak terasa menjelang magrib bus yang akan mengantarku ke ibukota pun datang, terlambat hampir 2 jam dari jadwal semula, akupun bergegas naek dengan mendapatkan sedikit gambaran tentang komunitas pecinta bis yang menamakan dirinya sebagai "bismania". Jam 06.00 keesokan harinya bus Kramad Djati jurusan Ponorogo - Ciledug yang kunaikipun finish di terminal Lebak bulus, penumpang tujuan Ciledug diantar ke terminal Lembang dengan isuzu elf.
Setelah 2 hari menghabiskan waktu dengan istri tercinta tibalah saatnya berburu tiket untuk balik ke ladangku di Sidoarjo. KA dah gak mungkin dapat, burung besi sudah pasti harganya selangit. Akhirnya aku mengajak istriku ke garasi OBL di Kebayoran Lama, dimana sebelumnya aku menunjukkan caper tentang Gajah Sprinter yang sangat menginspirasiku memilih gajah untuk kembali ke Sidoarjo. Selama ini istriku masih membayangkan bahwa naek bis itu ya seperti naek bis kota di jakarta. Kalo gak super ugal-ugalan seperti Metro Mini/Kopaja ya bis yang super lemot seperti Bianglala AC 44, dengan kabin yang sempit dan jorok. Bis paling bagus yang pernah dinaikinya mungkin hanya bus PATAS Surabaya - Jember .. . Akhirnya pulang ke Sidoarjo aku menggunakan Armada sang gajah, meski sedikit telat masuk Surabaya tapi kebersihan kabin dan kenyamanan perjalannya mulai sedikit aku nikmati. Sebulan setelah itu istri, mertua dan adik iparkupun ikut merasakan naek gajah dari kebayoran menuju Jember. Ternyata mertuaku cukup puas, dengan pelayanan Gajah dari kebayoran tersebut.
Rasa penasaranku akan komunitas bismania semakin menjadi. Berbagai tulisan dan laman tentang dunia perbisan mulai kugali-satu persatu. Di sini aku mulai mengetahui ternyata komunitas penggemar bis itu cukup banyak. Bahkan lebih banyak variannya daripada komunitas pecinta kereta (rail fans) maupun pecinta dunia penerbangan (Indoflyer).Dalam beberapa bulan penelusuran aku mulai akrab dengan istilah 1525, 1521, 1518, RK, RG, overhang, ngeblong, sarkawi, intercooler, king, dll. Dan topik yang paling kucari pastinya adalah catatan perjalanan (caper). Beberapa caper yang selalu kuingat adalah caper-caper penuh makna dari Pak Didik SS, Caper arjuna mencari cinta dalam serial Kiperpon, caper-caper jenaka ala Koh Hari BW, caper penuh prosa ala Mas Didik Edhi dan caper-caper luar biasa dari rekan-rekan lainnya, baik itu dari bismania.org maupun blog pribadinya masing-masing. Ternyata naik bis akan sangat menyenangkan jika diabadikan dalam sebuah tulisan.
Alhamdulillah sekitar pada September 2010 akhirnya aku diminta pindah ke kantor pusat perusahaan tempatku bekerja di Jakarta. Sungguh nikmat tersendiri bisa bekerja di tidak jauh dengan istri. Sekitar oktober 2010 akhirnya aku memilih bergabung dengan maillist tercinta ini. Sayang sekali aku baru menemukan komunitas bismania ini di saat-saat akhir menjadi seorang komuter. Aku justru menjadi seorang bismania disaat kondisi sangat jarang mencicipi perjalanan dengan sebuah bis. . Kurang lebih setelah tiga bulan bergabung dengan maillist bismania barulah aku merasakan naek bis jarak jauh kembali. Dan rasanya memang beda, meskipun Pahala Kencana yang kunaiki saat itu mengalami trouble tapi aku masih bisa menikmati perjalan tersebut. Empat bulan kemudian aku berkesempatan mencicipi jetbusnya akas Asri yang masih gress dan langsung kuabadikan dalam sebuah Caper.
Kenikmatanku sebagai bismaniapun bertambah ketika aku mendapatkan rejeki untuk mencicil sebuah rumah mungil yang tembok perumahannya langsung berbatasan dengan terminal Poris Plawad di Tangerang. Meskipun kalo ada kopdar di poris juga masih sering titip absen saja . Boleh dibilang untuk saat ini naik bis menjadi kebanggaan tersendiri bagiku. Entah mungkin aku sudah bosan dengan penerbangan yang hampir tiap minggu kulalui dengan lebih banyak delay atau sebab lainnya. Yang pasti aku selalu punya cerita ketika menaiki sebuah bus, kondisi yang tidak pernah kudapatkan saat menjadi penumpang ular atau burung besi.
Diposting pertama kali di Maillist bismania community 11 Juni 2012
Kamis, 05 September 2013
Minggu, 18 Agustus 2013
Mau lihat Jember Fasion Carnaval (JFC) ? Begini caranya menuju Jember !
Jember adalah kota kecil di sudut jawa timur yang terkenal dengan Jember Fashion Carnivalnya (JFC). JFC adalah sebuah carnaval yang cukup mendunia yang akhirnya banyak ditiru oleh daerah lain. Sebenarnya saat tembakau masih menjadi komoditi perdangan international beberapa belas tahun silam, kota ini cukup terkenal sampai di Bremen - Germany..
Tertarik dengan Jember Fashion Carnival (JFC) silahkan datang ke Jember, biasanya even akbar yang cukup mendunia ini diselenggakaran sekitar bulan Agustus setiap tahunnya. Di tahun 2013 ini JFC diselenggarakan pada tanggal 25 Agustus 2013. Untuk menuju jember kita bisa menggunakan beberapa moda Transportasi mulai dari Pesawat Udara, Kereta Api, Bus atau Travel.
Jember terletak sekitar 200 Km di timur Surabaya, dapat ditempuh selama 4-5 jam dengan perjalanan darat. Untuk menuju kota ini tersedia angkutan umum selama 24 jam. Dari Terminal Purabaya / Bungurasih anda bisa mencari bus tujuan jember dengan tarif Rp 34 rb untuk ekonomi dan 55 rb untuk bus Patas. Travel juga banyak tersedia dengan tarif sekitar 80 - 100 rb. Jika anda menginginkan naik Kereta api ada 3 Kereta api yang melayani travek Surabaya Jember yaitu KA mutiara timur Surabaya - Banyuwangi (dengan jadwal pagi dan malam). KA ini berkelas Eksekutif dan Bisnis. Ada juga kereta ekonomi AC Logawa dengan trayek Purwokerto-Jember yang biasa berangkat dari Surabaya sore hari. Dan satu lagi KA ekonomi AC Sritanjung yang melayani rute Jogjakarta - Banyuwangi yang otomatis akan lewat jember. Kereta ini juga berangkat dari surabaya sekitar siang menjelang sore.
Dari Jakarta anda juga bisa langsung menuju Jember dengan menggunakan bus. ada beberapa PO yang melayani trayek langsung Jakarta Jember yaitu Pahala Kencana, Lorena, Safari Darma Raya, Akas Asri dan Rosalia Indah. Tiket bus di hari2 biasa berkisar antara 280 -310 rb dengan layanan bus kelas eksekutif. Jika menggunakan mode transportasi lain kita harus transit di Surabaya. Jika naik Pesawat Udara kita turun di Juanda Surabaya, lanjut naik bis bandara menuju Terminal dengan tarif sekitar 20 rb. Atau langsung ambil travel dari bandara menuju jember dengan tarif sekitar 100-120 rb. Jika dengan kereta kita bisa menggunakan KA tujuan Surabaya seperti Gayabaru Selatan, Kerta jaya, Gumarang, Sembrani, Bima dan Argo anggrek bersambung dengan KA Mutiara Timur.
Banyak pilihan kan menuju jember? Ayo berkunjung ke Jember!.. hehe
Selasa, 16 Juli 2013
Tiket Mudik Yang Membumbung Tinggi
Hmm baru seminggu puasa beberapa Perusahaan Otobus sudah pada merilis harga tiket mudik mereka. Fantastis, tiket Jakarta Malang tembus 600 rb, Jakarta - Kudus/Jepara tembus 400 rb. Kenaikannya lebih dari 100% harga normal.
Bagaimana dengan Kereta Api dan Pesawat Udara? Kereta api lebih fantastis lagi, mereka gak perlu report2 menjual tiket lebaran, lha wong di bulan Mei lalu tiket mereka dah ludes? Ramadhan belum mulai mereka dah kipas2 menghitung laba.. hehe. Sepertinya PT KAI mau jual harga berapapun tiket mereka akan ludes dalam hitungan jam.. hehe. Pesawat udara bagaimana? sami mawon, tiket mereka malah sudah membumbung tinggi sejak kalender tahun 2013 di launching ..
Hasilnya para mudikers pasti merana, mau naik pesawat dan KA susah, disaat THR belum cair tiket keduanya dah ludes. Mau naik bis susah juga, meski uang THR dah di tangan, tapi harganya juga mahal, dah gitu waktu tempuhya saat lebaran sangat gak manusiawi, masa Jakarta solo bisa 30 jam? hehe
Bagaimana cara agar angkutan umum menaikkan tiketnya saat lebaran? Solusinya satu, jangan mudik pas lebaran. Mudik dan silaturrohmi ke keluarga bisa dilakukan kapan saja.. :-). Kalo gak ada yang mudik saat lebaran tiket mudik kan gak laku, lama2 harganya juga akan turun dengan sendirinya.. hehehe
OK, SELAMAT menghabiskan uang THR jangan lupa sisihkan 2.5% buat zakat !
Jumat, 12 Juli 2013
Catatan Perjalanan : Tetap Tidur Meski Berada di Lambung Singa yang Berlari
Sampai diterminal Jepara aku langsung menuju ke deretan agen yang menurutku lebih pas disebut counter penjualan tiket bis malam. Entah kenapa mataku langsung tertuju ke agen Nusantara. Langsung bertanya untuk keberangkatan nanti malam (30 Juni 2012) dengan tujuan poris/ grogol/ kalideres. "Poris habis mas, yang ada grogol kelas eksekutif mas" kata mbak agennya. "NS 01 ada mbak"tanyaku kembali. Dijawab tinggal 1seat mas. Waduh gak jadi deh, masak mau balapan lagi ma Istriku ? Hehehe. "Iya udah mbak ambil yang grogol 2 seat !", tegasku. 280 rb menjadi angka yang harus kubayar untuk mendapatkan dua dari 34 kursi NS 18 tujuan Rawamangun – Grogol. Setahuku hampir semua Nusantara tujuan Grogol-Daan Mogot adalah singa-singa Swedia.
Setelah selesai dengan urusan tiket pulang maka kamipun bergegas menuju pantai Kartini. Info dari mbak agen, tarif becak kesana 5-10 rb. Setelah tanya ke Bapak joki becak malah minta 15 rb. Ya sudahlah naek aja meski tahu kalau itu kemahalan, hitung-hitung tarif liburan wong tiket bisnya aja naek kok.. hehehe. Ternyata pak becak mengarahkan kami ke dermaga penyebrangan menuju pulau Karimun Jawa. Sampai di sana kami langsung saja cari toilet dan sarapan pagi untuk selanjutnya masuk ke obyek wisata pantai kartini. Karena ada pintu setengah terbuka di dekat warung nasi maka aku bisa langsung masuk ke obyek wisata pantai kartini tanpa harus melewati pintu penarikan retribusi,, hehehe. Maaf ya buat Pemda Jepara ke hadiranku ke kota ukir ini tidak menyumbang APBD sama sekali. Berarti hitungan aku naik becak tadi murah banget cuma 5 rb, yang 10 ribu sebagai ongkos masuk obyek wisata..

Karena istriku selalu tidak nyaman kalau harus mandi di kamar mandi umum maka kami putuskan untuk menyewa penginapan untuk sekedar sebagai tempat mandi dan ganti baju. Sebuah kamar mungil tanpa AC dihargai 70 rb untuk sewa sampai sore hari. Saat proses check in tak lupa pemilik penginapan menanyakan status kami apakah suami istri ? Takut kami sebagai pasangan yang tidak jelas yang mau short time kali ya ?? hehehe. Bagus tuh proteksinya pak !. Kurang lebih 5 jam menghabiskan waktu di pantai kartini (plus makan, mandi, dan tidur siang..hehe) akhirnya kamipun meninggalkan obyek wisata andalan Jepara tersebut. Sore itu kami putuskan untuk jalan kaki "so" tawaran dari beberapa penarik becak kami tangguhkan. Sekitar setengah 4 sore sampailah kami di terminal Jepara. Disana tampak ada bus berwarna putih dengan tulisan MJCM Trans jurusan Denpasar. Sayang aku tidak sempat memfoto itu bis yang keburu kabur duluan saat aku sedang mencari makan. Karena tidak selera dengan makanan yang ditawarkan pedagang di dalam terminal maka kamipun mencari makan di luar terminal.

Jam 4 sore lebih sedikit kamipun kembali ke terminal. Kondisi masih sepi hanya ada KD dan Bandung ekspress yang sedang mandi. Sekitar jam setengah 5 barulah bus datang satu persatu. Dimulai dari Muji Jaya Biru, Shantika 2C, Selamet, dan Pahala Kencana, MJ 046, Bejeu B10 dan terakhir Nusantara NS 048. NS 048 ini sebagai bus langsir untuk seluruh penumpang NS di Jepara, baik itu tujuan Surabaya Malang maupun Jabodetabek.

Jam 17.10 NS 48 yang merupakan bus kelas Patas bertoilet / VIP Jurusan Surabaya dan Malang meninggalkan terminal Jepara. Sepanjang perjalanan bus ini berhenti di beberapa agen yang tersebar dia jalan utama Jepara – Kudus. Disini aku bisa melihat betapa luar biasanya potensi penumpang bus malam sepanjang jalur Jepara-Kudus tersebut. Setiap ada kumpulan agen bus malam dilewati pasti akan dijumpai pemandangan berjibunnya penumpang yang sedang menunggu armadanya masing-masing. Padahal saat itu adalah hari sabtu yang sebenarnya bukan merupakan puncak arus balik menuju ibukota atau kota-kota besar lainnya. Pemandangan seperti ini ini hampir tidak pernah kudapati di daerah asalku. Bahkan Nusantara yang hanya menyediakan bus feeder dari Jepara juga mampu menikamati kue yang cukup besar di sini. Tercatat semua kursi di NS 48 ini penuh terisi dan 1 orang harus duduk di bangku CB (bangku kernet).

Sekitar jam 18.30 buskupun masuk ke terminal kudus. Terminal ini terlihat cukup bergairah di malam hari. Di sana telah terparkir belasan bus Nusantara dan beberapa bus dari Haryanto, Shantika serta Muji Jaya. Awalnya aku kesulitan menemukan busku, karena ada 2 bis yang tidak ada papan kodenya. Saat sibuk mencari busku aku melihat beberapa pemuda yang sedang berkumpul. Beberapa orang diantara pemuda tersebut menggunakan seragam kebanggan BMC. Langsung saja aku sapa mereka sambil memperkenalkan diri. Dua rekan yang sempat menemaniku mencari NS 18 adalah sdr Suceng yang merupakan adik dari Wapres BMC Banten Mas Bejo dan rekan satu lagi saya lupa namanya.. , maaf ya mas aku memang paling susah menghafal nama. Baru ngobrol sebentar ternyata ada panggilan penumpang NS 18 diminta naek bus. Walah ternyata busku adalah scania berbaju setra livery Manhattan City dengan nopol K 1567 BB yang lagi parkir di sebelah NS 48 yang kunaiki tadi toh? Gak ada papan namanya sih..
Jam 18.50 HS 198 Scania entah seri K 114 atau K 124 atau mungkin juga seri yang lain (maklum sangat gak ngerti tentang bus asal swedia) bergerak meninggalkan terminal Kudus. Sign kiri untuk masuk garasi kantor pusat Nusantara dan mengambil penumpang. Urusan mampir garasi selesai kemudian tancap gas. Mampir agen demak sejenak untuk ambil penumpang dan kemudian tancap gas lagi. Belum lama berjalan ternyata mampu melewati Haryanto mightnigh. Style berlari dari HS 198 ini ternyata cukup garang juga. Buktinya selain si Mightnigh Pahala Kencana B 7170 WV jurusan Jakarta – Bangilan juga bisa di singgirkan tanpa perlawanan berarti. Masuk agen genuk, ambil penumpang terakhir dan selanjutnya langsung injak pedal gas di dalam tol. Di tol ternyata singa daratan ini hanya mampu melewati Kramad Djati D 7520 AD livery baru dan bus Pariwisata SAM tour. Keluar tol langsung disambut kemacetan. Gak butuh lama untuk memutuskan ikut goyang kanan bersama Tunggal Daya yang memanggul pagupon, PK Proteus dan Haryanto Phoebus 29. Aksi 4 bis beda perusahaan ini sedikit membuat macet jalur sebaliknya.. hehehe. Lepas macet sebentar kembali dihadang kemcetan di Mangkang. Kembali goyang kanan bareng dengan di Phoebus, PK dan Haryanto ungu Setra. Ternyata ekor kemacetan dari arah timur sampai lingkar Kaliwungu-Kendal. Tidak terasa ternyata lampu kabin sudah menyala dan bus kami sudah berada di Rumah Makan Sari Rasa. Saat itu jam menunjukkan angka 21.50 dimana kami parkir dibelakang NS 71, NS 86 dan NS 04.

Menghabiskan waktu cukup lama di Rumah Makan Sari Rasa, entah apa yang ditunggu padahal seluruh penumpang sudah on position. Jam 21.35 barulah singa Swedia yang kami tunggangi meninggalkan rumah makan yang cukup banyak disinggahi bus-bus malam baik dari ranah muria, solo, wonogiri bahkan dari Ponorogo dan Kediri tersebut. Baru berjalan langsung bisa menerkam Rosalia Indah NL 366 sepertinya masih gontai karena kekenyangan. Di Tanjakan plelen bersama dengan Shantika nomor 5 dan Haryanto Destroyer memaksa minggir bis-bis renta yang sedang terengah-engah menanjak. Bandung Ekspres, OBL, Bayu Megah dan Bogor Indah merupakan daftar bus-bus yang sedang berjuang melewati dataran tinggi alas roban tersebut. Lepas tanjakan plelen Shantika merah muda dengan kode 5 berhasil di lewati tanpa kesulitan berarti. Ternyata bus yang sehari sebelumnya kunaiki tersebut memang tidak terlalu ngonyo berlari, pantas saja aku bisa tertidur pulas di dalamnya.
Perlawanan seru justru ditunjukkan oleh bus yang terliat sudah cukup kusam. Selamet dengan livery Naruto entah bermesin apa cukup susah ditaklukkan. Setiap hendak diterkam di Selamet tua tersebut selalu mampu berkelit diantara badan bongsor truk-truk jalur pantura. Setelah cukup lama diintimidasi akhirnya Selamet Naruto menyerah juga. Tidak cukup dengan si Selamet singaku pun terus mengejar mahluk2 sejenis. Haryanto Jetbus Phoebus dengan stiker sholawat nabi, dan GMS masih terlalu mudah untuk ditaklukan. Kejar-kejaran seru terjadi ketika singa HS 198 yang kunaiki berusaha menaklukkan Laju Prima Jetbus Morodadi. Ternyata Laju Prima yang sedang menempel ketat Haryanto Destroyer 46 dan 2 NS Primer class tersebut tidak mau kalah dengan singaku. Kulihat Istriku juga menikmati kejaran bus malam di pantura Jateng tersebut, bahkan dia membantuku mengidentifikasi lawan-lawan kami dimalam itu. . NS 93 Primer class menjadi kontestan pertama yang menyerah dari kejar-kejaraan 5 bus malam tersebut. Saat lagi asyik kejar kejara Haryanto Destroyer malah sign kiri di depan toko penjual makanan ringan. Ternyata busku justru ikut ikutan berhenti. Terlihat assisten driver dari Haryanto lebih cekatan dalam belanja makanan daripada asisten driver busku. Hasilnya Haryanto bisa segera meninggalkan busku kembali. Saat berhenti untuk membeli cemilan bagi para crew terlihat GMS, Shantika 5, OBL dan Selamet Naruto kembali melewati busku. Selain bus2ku yang tadi sudah pernah dipinggirkan ada lagi kontestan baru yang ikut melewati busku yaitu Shantika Diamond Class.
Kembali menapaki jalur pantura NS 18 ini harus berjuang keras mengejar mangsa-mangsanya. OBL Setra yang ternyata jurusan Klaten-Bogor menjadi korban pertama. Saat traffic light menyala merah, singaku berhasil bersebelahan dengan Naruto. Begitu lampu berubah menjadi hijau langsung pedal gas diinjak dalam-dalam yang membuat Naruto langsung tercecer jauh dibelakang. Di Pekalongan GMS kembali di Over Take. Tidak lama setelah GMS Shantika merah 5 dan NS 93 juga bisa terlewati dengan mudah. Tak terasa akupun tak sadarkan diri dalam alam mimpi. Terbangun saat busku melaju kencang di jalanan yang cukup sepi. Entah bagaimana hasil kejar-kejaran tadi, tapi dalam mimpiku aku merasa bisku berhasil menyodok tempat pertama.. hehehe. Semula aku mengira posisi kami masih berada di derah Brebes. Saat sukses melewati 2 bus Sumber Alam baru sadar ternyata kami sedag melintasi Polsek Sukra di Kabupaten Subang. Jam saat itu menunjukkan angka 03.20. Sumber Harapan merupakan korban berikut dari kecepatan lari sang singa. Dominasi raja hutan yang telah bertransformasi menjadi raja jalanan ini kembali terjadi atas Purwowidodo, Sumber Alam Proteus dan Dewi Sri. Sinar Jaya Evolution dan Handoyo putih biru menjadi lawan berikutnya yang ditaklukkan. Berhasil melewati Pahala Kencana Jetbus K 1712 B (CMIW) bermesin Hino yang sedang menaklukkan OBL New Marcopolo. Proses penaklukan PK itu sendiri berlangsung dengan alot. Ditempel sejak ciasem dan baru bisa di OT di daerah Sukamandi. Setelah PK giliran duo Handoyo berbaju Trisaksi dan Sprinter yang berhasil dibenamkan. Dilanjutkan dengan penaklukan Garuda Mas ekonomi serta Tunggal Daya Putera di Simpang Jomin.
Di Simpang Jomin sebenarnya sempat melewati Shantika 5B. Tetapi mbak shanti ini tidak kumasukkan dalam daftar korban keganasan sang singa dikarenakan memang bus berwarna hijau itu sedang pasang sign kiri hehe. Jam 04.05 sang singa mulai memasuki tol Cikampek. Minggir sejenak untuk pergantian driver. Ternyata cukup jauh juga driver tengah menunggangi sang singa. Tepat jam 05.10 sampailah sang singa di pemberhentian pertamanya Terminal Rawamangun berbarengan dengan Shantika 8 diamond class. Perjalanan dilanjutkan kembali menuju kandang utamanya di Daan Mogot. Akhirnya jam 05.45 sampailah kami di tempat istirahat sang singa Swedia peranakan Kudus tersebut. Di sana sudah terparkir singa-singa lainnya yaitu NS 01 dan NS 18.
Mengandalkan tiket seharga Rp 2000 dari Transjakarta yang pagi itu sudah cukup penuh sampailah kami di terminal Kalideres. Menunggu sekitar 15 menit untuk selanjutnya menuju Terminal Poris dengan menumpang Buslane Tangerang Kalideres. Bus yang diharapkan sebagi feeder busway untuk wilayah Tangerang memang masih sepi peminat. Pagi itu penumpangnya dari Poris menuju Kalideres adalah NIHIL, alias membakar solar tanpa ada hasil. Sedangkan dari Kalideres-Poris konsumsi solar dari Hino R 260 itu hanya mampu meraup Rp. 6000,- dari 2 tiket yang kubayarkan untuk aku dan istriku. Jam 07.10 sampailah kami di terminal Poris yang merupakan tujuan akhir touring Tangerang -Jepara – Tangerang yang aku dan istriku lalui. Sungguh touring menarik yang penuh dengan aksi tidur dari pemeran utamanya..

sekian
7 Juli 2012
Setelah selesai dengan urusan tiket pulang maka kamipun bergegas menuju pantai Kartini. Info dari mbak agen, tarif becak kesana 5-10 rb. Setelah tanya ke Bapak joki becak malah minta 15 rb. Ya sudahlah naek aja meski tahu kalau itu kemahalan, hitung-hitung tarif liburan wong tiket bisnya aja naek kok.. hehehe. Ternyata pak becak mengarahkan kami ke dermaga penyebrangan menuju pulau Karimun Jawa. Sampai di sana kami langsung saja cari toilet dan sarapan pagi untuk selanjutnya masuk ke obyek wisata pantai kartini. Karena ada pintu setengah terbuka di dekat warung nasi maka aku bisa langsung masuk ke obyek wisata pantai kartini tanpa harus melewati pintu penarikan retribusi,, hehehe. Maaf ya buat Pemda Jepara ke hadiranku ke kota ukir ini tidak menyumbang APBD sama sekali. Berarti hitungan aku naik becak tadi murah banget cuma 5 rb, yang 10 ribu sebagai ongkos masuk obyek wisata..

Karena istriku selalu tidak nyaman kalau harus mandi di kamar mandi umum maka kami putuskan untuk menyewa penginapan untuk sekedar sebagai tempat mandi dan ganti baju. Sebuah kamar mungil tanpa AC dihargai 70 rb untuk sewa sampai sore hari. Saat proses check in tak lupa pemilik penginapan menanyakan status kami apakah suami istri ? Takut kami sebagai pasangan yang tidak jelas yang mau short time kali ya ?? hehehe. Bagus tuh proteksinya pak !. Kurang lebih 5 jam menghabiskan waktu di pantai kartini (plus makan, mandi, dan tidur siang..hehe) akhirnya kamipun meninggalkan obyek wisata andalan Jepara tersebut. Sore itu kami putuskan untuk jalan kaki "so" tawaran dari beberapa penarik becak kami tangguhkan. Sekitar setengah 4 sore sampailah kami di terminal Jepara. Disana tampak ada bus berwarna putih dengan tulisan MJCM Trans jurusan Denpasar. Sayang aku tidak sempat memfoto itu bis yang keburu kabur duluan saat aku sedang mencari makan. Karena tidak selera dengan makanan yang ditawarkan pedagang di dalam terminal maka kamipun mencari makan di luar terminal.

Jam 4 sore lebih sedikit kamipun kembali ke terminal. Kondisi masih sepi hanya ada KD dan Bandung ekspress yang sedang mandi. Sekitar jam setengah 5 barulah bus datang satu persatu. Dimulai dari Muji Jaya Biru, Shantika 2C, Selamet, dan Pahala Kencana, MJ 046, Bejeu B10 dan terakhir Nusantara NS 048. NS 048 ini sebagai bus langsir untuk seluruh penumpang NS di Jepara, baik itu tujuan Surabaya Malang maupun Jabodetabek.

Jam 17.10 NS 48 yang merupakan bus kelas Patas bertoilet / VIP Jurusan Surabaya dan Malang meninggalkan terminal Jepara. Sepanjang perjalanan bus ini berhenti di beberapa agen yang tersebar dia jalan utama Jepara – Kudus. Disini aku bisa melihat betapa luar biasanya potensi penumpang bus malam sepanjang jalur Jepara-Kudus tersebut. Setiap ada kumpulan agen bus malam dilewati pasti akan dijumpai pemandangan berjibunnya penumpang yang sedang menunggu armadanya masing-masing. Padahal saat itu adalah hari sabtu yang sebenarnya bukan merupakan puncak arus balik menuju ibukota atau kota-kota besar lainnya. Pemandangan seperti ini ini hampir tidak pernah kudapati di daerah asalku. Bahkan Nusantara yang hanya menyediakan bus feeder dari Jepara juga mampu menikamati kue yang cukup besar di sini. Tercatat semua kursi di NS 48 ini penuh terisi dan 1 orang harus duduk di bangku CB (bangku kernet).

Sekitar jam 18.30 buskupun masuk ke terminal kudus. Terminal ini terlihat cukup bergairah di malam hari. Di sana telah terparkir belasan bus Nusantara dan beberapa bus dari Haryanto, Shantika serta Muji Jaya. Awalnya aku kesulitan menemukan busku, karena ada 2 bis yang tidak ada papan kodenya. Saat sibuk mencari busku aku melihat beberapa pemuda yang sedang berkumpul. Beberapa orang diantara pemuda tersebut menggunakan seragam kebanggan BMC. Langsung saja aku sapa mereka sambil memperkenalkan diri. Dua rekan yang sempat menemaniku mencari NS 18 adalah sdr Suceng yang merupakan adik dari Wapres BMC Banten Mas Bejo dan rekan satu lagi saya lupa namanya.. , maaf ya mas aku memang paling susah menghafal nama. Baru ngobrol sebentar ternyata ada panggilan penumpang NS 18 diminta naek bus. Walah ternyata busku adalah scania berbaju setra livery Manhattan City dengan nopol K 1567 BB yang lagi parkir di sebelah NS 48 yang kunaiki tadi toh? Gak ada papan namanya sih..
Jam 18.50 HS 198 Scania entah seri K 114 atau K 124 atau mungkin juga seri yang lain (maklum sangat gak ngerti tentang bus asal swedia) bergerak meninggalkan terminal Kudus. Sign kiri untuk masuk garasi kantor pusat Nusantara dan mengambil penumpang. Urusan mampir garasi selesai kemudian tancap gas. Mampir agen demak sejenak untuk ambil penumpang dan kemudian tancap gas lagi. Belum lama berjalan ternyata mampu melewati Haryanto mightnigh. Style berlari dari HS 198 ini ternyata cukup garang juga. Buktinya selain si Mightnigh Pahala Kencana B 7170 WV jurusan Jakarta – Bangilan juga bisa di singgirkan tanpa perlawanan berarti. Masuk agen genuk, ambil penumpang terakhir dan selanjutnya langsung injak pedal gas di dalam tol. Di tol ternyata singa daratan ini hanya mampu melewati Kramad Djati D 7520 AD livery baru dan bus Pariwisata SAM tour. Keluar tol langsung disambut kemacetan. Gak butuh lama untuk memutuskan ikut goyang kanan bersama Tunggal Daya yang memanggul pagupon, PK Proteus dan Haryanto Phoebus 29. Aksi 4 bis beda perusahaan ini sedikit membuat macet jalur sebaliknya.. hehehe. Lepas macet sebentar kembali dihadang kemcetan di Mangkang. Kembali goyang kanan bareng dengan di Phoebus, PK dan Haryanto ungu Setra. Ternyata ekor kemacetan dari arah timur sampai lingkar Kaliwungu-Kendal. Tidak terasa ternyata lampu kabin sudah menyala dan bus kami sudah berada di Rumah Makan Sari Rasa. Saat itu jam menunjukkan angka 21.50 dimana kami parkir dibelakang NS 71, NS 86 dan NS 04.

Menghabiskan waktu cukup lama di Rumah Makan Sari Rasa, entah apa yang ditunggu padahal seluruh penumpang sudah on position. Jam 21.35 barulah singa Swedia yang kami tunggangi meninggalkan rumah makan yang cukup banyak disinggahi bus-bus malam baik dari ranah muria, solo, wonogiri bahkan dari Ponorogo dan Kediri tersebut. Baru berjalan langsung bisa menerkam Rosalia Indah NL 366 sepertinya masih gontai karena kekenyangan. Di Tanjakan plelen bersama dengan Shantika nomor 5 dan Haryanto Destroyer memaksa minggir bis-bis renta yang sedang terengah-engah menanjak. Bandung Ekspres, OBL, Bayu Megah dan Bogor Indah merupakan daftar bus-bus yang sedang berjuang melewati dataran tinggi alas roban tersebut. Lepas tanjakan plelen Shantika merah muda dengan kode 5 berhasil di lewati tanpa kesulitan berarti. Ternyata bus yang sehari sebelumnya kunaiki tersebut memang tidak terlalu ngonyo berlari, pantas saja aku bisa tertidur pulas di dalamnya.
Perlawanan seru justru ditunjukkan oleh bus yang terliat sudah cukup kusam. Selamet dengan livery Naruto entah bermesin apa cukup susah ditaklukkan. Setiap hendak diterkam di Selamet tua tersebut selalu mampu berkelit diantara badan bongsor truk-truk jalur pantura. Setelah cukup lama diintimidasi akhirnya Selamet Naruto menyerah juga. Tidak cukup dengan si Selamet singaku pun terus mengejar mahluk2 sejenis. Haryanto Jetbus Phoebus dengan stiker sholawat nabi, dan GMS masih terlalu mudah untuk ditaklukan. Kejar-kejaran seru terjadi ketika singa HS 198 yang kunaiki berusaha menaklukkan Laju Prima Jetbus Morodadi. Ternyata Laju Prima yang sedang menempel ketat Haryanto Destroyer 46 dan 2 NS Primer class tersebut tidak mau kalah dengan singaku. Kulihat Istriku juga menikmati kejaran bus malam di pantura Jateng tersebut, bahkan dia membantuku mengidentifikasi lawan-lawan kami dimalam itu. . NS 93 Primer class menjadi kontestan pertama yang menyerah dari kejar-kejaraan 5 bus malam tersebut. Saat lagi asyik kejar kejara Haryanto Destroyer malah sign kiri di depan toko penjual makanan ringan. Ternyata busku justru ikut ikutan berhenti. Terlihat assisten driver dari Haryanto lebih cekatan dalam belanja makanan daripada asisten driver busku. Hasilnya Haryanto bisa segera meninggalkan busku kembali. Saat berhenti untuk membeli cemilan bagi para crew terlihat GMS, Shantika 5, OBL dan Selamet Naruto kembali melewati busku. Selain bus2ku yang tadi sudah pernah dipinggirkan ada lagi kontestan baru yang ikut melewati busku yaitu Shantika Diamond Class.
Kembali menapaki jalur pantura NS 18 ini harus berjuang keras mengejar mangsa-mangsanya. OBL Setra yang ternyata jurusan Klaten-Bogor menjadi korban pertama. Saat traffic light menyala merah, singaku berhasil bersebelahan dengan Naruto. Begitu lampu berubah menjadi hijau langsung pedal gas diinjak dalam-dalam yang membuat Naruto langsung tercecer jauh dibelakang. Di Pekalongan GMS kembali di Over Take. Tidak lama setelah GMS Shantika merah 5 dan NS 93 juga bisa terlewati dengan mudah. Tak terasa akupun tak sadarkan diri dalam alam mimpi. Terbangun saat busku melaju kencang di jalanan yang cukup sepi. Entah bagaimana hasil kejar-kejaran tadi, tapi dalam mimpiku aku merasa bisku berhasil menyodok tempat pertama.. hehehe. Semula aku mengira posisi kami masih berada di derah Brebes. Saat sukses melewati 2 bus Sumber Alam baru sadar ternyata kami sedag melintasi Polsek Sukra di Kabupaten Subang. Jam saat itu menunjukkan angka 03.20. Sumber Harapan merupakan korban berikut dari kecepatan lari sang singa. Dominasi raja hutan yang telah bertransformasi menjadi raja jalanan ini kembali terjadi atas Purwowidodo, Sumber Alam Proteus dan Dewi Sri. Sinar Jaya Evolution dan Handoyo putih biru menjadi lawan berikutnya yang ditaklukkan. Berhasil melewati Pahala Kencana Jetbus K 1712 B (CMIW) bermesin Hino yang sedang menaklukkan OBL New Marcopolo. Proses penaklukan PK itu sendiri berlangsung dengan alot. Ditempel sejak ciasem dan baru bisa di OT di daerah Sukamandi. Setelah PK giliran duo Handoyo berbaju Trisaksi dan Sprinter yang berhasil dibenamkan. Dilanjutkan dengan penaklukan Garuda Mas ekonomi serta Tunggal Daya Putera di Simpang Jomin.
Di Simpang Jomin sebenarnya sempat melewati Shantika 5B. Tetapi mbak shanti ini tidak kumasukkan dalam daftar korban keganasan sang singa dikarenakan memang bus berwarna hijau itu sedang pasang sign kiri hehe. Jam 04.05 sang singa mulai memasuki tol Cikampek. Minggir sejenak untuk pergantian driver. Ternyata cukup jauh juga driver tengah menunggangi sang singa. Tepat jam 05.10 sampailah sang singa di pemberhentian pertamanya Terminal Rawamangun berbarengan dengan Shantika 8 diamond class. Perjalanan dilanjutkan kembali menuju kandang utamanya di Daan Mogot. Akhirnya jam 05.45 sampailah kami di tempat istirahat sang singa Swedia peranakan Kudus tersebut. Di sana sudah terparkir singa-singa lainnya yaitu NS 01 dan NS 18.
Mengandalkan tiket seharga Rp 2000 dari Transjakarta yang pagi itu sudah cukup penuh sampailah kami di terminal Kalideres. Menunggu sekitar 15 menit untuk selanjutnya menuju Terminal Poris dengan menumpang Buslane Tangerang Kalideres. Bus yang diharapkan sebagi feeder busway untuk wilayah Tangerang memang masih sepi peminat. Pagi itu penumpangnya dari Poris menuju Kalideres adalah NIHIL, alias membakar solar tanpa ada hasil. Sedangkan dari Kalideres-Poris konsumsi solar dari Hino R 260 itu hanya mampu meraup Rp. 6000,- dari 2 tiket yang kubayarkan untuk aku dan istriku. Jam 07.10 sampailah kami di terminal Poris yang merupakan tujuan akhir touring Tangerang -Jepara – Tangerang yang aku dan istriku lalui. Sungguh touring menarik yang penuh dengan aksi tidur dari pemeran utamanya..

sekian
7 Juli 2012
Hilal oh Hilal
Siap-siap menyambut Ramadhan, pasti itu yang sedang anda lakukan saat ini. Ada yang sibuk menyiapkan makanan, ada yang sibuk pergi ke makam, bahkan ada yang sibuk update status FaceBook. Ada yang senang dengan datangnya ramadhan, ada yang biasa-biasa saja, bahkan ada juga yang merana dengan datangnya Bulan Suci Ini. Sedang apa anda sekarang? itu semua anda yang tentukan.
Mau sholat taraweh malam ini ? Ups tunggu dulu, anda harus menunggu sidang "Isbat" terlebih dahulu! Iya sidang isbat, sidang pengadilan buat si "Hilal" hehehe. Hilal, ini dia mahluk yang bikin heboh di idul fitri tahun lalu (idul fitri 2011). Semua orang sudah bersiap buat lebaran. Ketupat dah direbus, ayam dah disulap menjadi opor tetapi saat pengadilan si "Hilal" ternyata makluk yang satu itu malah gak muncul. Alhasil, banyak orang merana, banyak ketupat dan opor yang turun derajat. Makanan yang semula berada di kasta tertinggi itu berbubah menjadi makanan rakyat jelata.
Baiklah mari kita simak apakah si "Hilal" akan bikin heboh lagi di tahun ini? Selamat mencari "Hilal" dan Marhaban ya Ramadhan, Mohon Maaf Lahir Batin !
(Diposting pertama kali di facebook 19 Juli 2012)
Mau sholat taraweh malam ini ? Ups tunggu dulu, anda harus menunggu sidang "Isbat" terlebih dahulu! Iya sidang isbat, sidang pengadilan buat si "Hilal" hehehe. Hilal, ini dia mahluk yang bikin heboh di idul fitri tahun lalu (idul fitri 2011). Semua orang sudah bersiap buat lebaran. Ketupat dah direbus, ayam dah disulap menjadi opor tetapi saat pengadilan si "Hilal" ternyata makluk yang satu itu malah gak muncul. Alhasil, banyak orang merana, banyak ketupat dan opor yang turun derajat. Makanan yang semula berada di kasta tertinggi itu berbubah menjadi makanan rakyat jelata.
Baiklah mari kita simak apakah si "Hilal" akan bikin heboh lagi di tahun ini? Selamat mencari "Hilal" dan Marhaban ya Ramadhan, Mohon Maaf Lahir Batin !
(Diposting pertama kali di facebook 19 Juli 2012)
3 Etape Bersama Damri Royal Class
Saya punya hoby yang sedkit nyeleneh, yaitu suka akan bis. Jadi kemana2 saya lebih suka naik bis dari pada naik angkutan/kendaraan lainnya. Untuk merekam hoby saya naik bis tersebut biasanya saya membuat sebuah cacatan akan perjalanan tersebut. Berikut salah satunya :
Selasa 28 Mei 2013 jam 07.35 taksi biru yang mengantar saya sudah tiba di stasiun gambir. Hmm makin elit saja nih stasiun, gerai2 penjual makanan sudah bukan kelas ecek2 lagi. Brand2 nasional dan internasional sudah pada berkumpul disitu.Sempat mampir di toilet yang berada di luar area peron ternyata juga sudah free of charge, dulu hanya yang di area dalam yang gratis. Stasiun ini sudah benar2 bersolek, sudah tidak kalah dengan bandara. Kapan ya terminal bisa berubah seperti ini juga? hehehe.
Royal Class lampung langsung naik pak? tanyaku pada beberapa bapak2 yang berseragam kementrian perhubungan berlabel Damri di lengan. Iya mas naik aja, itu bisnya bisnya yang warna merah, Jawab salah satu bapak dengan menunjuk arah bus merah yang sedikit tersembunyi diantara bus2 berwarna warna silver. Sudah ada beberapa penumpang di dalamnya. Saat beli tiket hari minggunya saya sudah tidak mendapat seat tunggal disebah kiri, tapi alhamdulillah hot seat nomor 3 bisa saya amankan.
Jam 07.55 asissten Driver membagikan snack pada semua penumpang, dan jam 08.05 bus inipun lepas landas dari parkiran Gambir. 21 seat yang dibenamkan diatas sasis MB 1526 ini semua terisi, padahal ini bukan week end, bahkan tadi sempat ada 2 penumpang yang akan membeli tapi dah tidak kebagian tiket bus ini. Kata ibu2 disamping saya yang hampir setiap bulan bolak balik Lampung Jakarta bis ini hampir selalu penuh, hampir mustahil dapat tiket kalo beli mendadak seperti dua orang tadi. Lampung memang lumbung emas bagi PO pelat merah ini. Kata teman kantor saya di Lampung, untuk yang kelas yang biasa (eksekutif dan bisnis AC) saja bisa berangkat 4 sampai 5 bus dari gambir, luar biasa bukan. Padahal PO saingannya justru gulung tikar dalam waktu yang lumayan singkat.
Butuh waktu sekitar 25 menit untuk membelah kemacetan Tomang Raya sampai akhirnya masuk tol Jakarta Merak di jam 08.30. Terlihat kepadatan lalu lintas di dalam tol yang mengarah jakarta, ekor kepadatan itu hampir menyentuh rest area di km 14. Di area Meruya saya sempat melihat bus Nusantara jurusan Palembang-Kudus yang ikut terjebak dalam kemacetan. Ahirnya bisa juga melihat bus itu melintas, dengar-dengar terobosan Nusantara membuka line Kudus - Palembang tidak terlalu memuaskan, okupansi penumpangnya sangat sedikit, benarkah demikian? Perjalanan Tangerang sampai merak dilalui dengan standar saja, bus dipacu oleh driver setengah baya ini dengan kecepatan rata-rata di jalan tol. Angka 100 Kpj sepertinya menjadi angka kramat yang tidak boleh dilewati. Aksi jaga jarak dan selalu mengambil jalur kiri saat jalanan kosong cukup sebagai bukti bahwa driver bus ini adalah pengemudi yang santun dalam berkendara. Jalur kanan benar2 hanya difungsikan untuk mendahului kendaraan di depannya.
Jam 9.45 bus berwarna merah sudah mencapai gate tol merak, dan hanya butuh waktu sekitar 15 menit untuk langsung masuk ke KM Rajabasa 1 di dermaga satu pelabuhan merak. Yang menarik disini ternyata bus ini menggunakan jasa pemandu untuk menuju ke kapal. Entah apa status dari pemandu ini, yang pasti dia naik dari pintu gerbang dermaga untuk selanjutnya membimbing driver bus kami menuju kapal yang benar2 sudah siap berangkat. Saat bis mencapai pintu kapal barulah sang pemandu tersebut turun. Tepat jam 10.20 terompet besar dari kapal motor inipun berdengung, yang menjadi tanda kapal ini angkat jangkar dari pelabuhan.
Perjalanan selama 2,5 jam di dalam kapal saya habiskan untuk menonton TV kabel di ruang eksekutif. Untuk memakai jasa ruang eksekutif ini saya harus menambah lagi Rp. 10.000 kepada petugas yang menarik ongkos saat kapal sudah berlayar menuju pulau sumatera. Jam 12.40 kapalpun sandar di pelabuhan Bakauheni, setelah mengantri keluar sekitar 12 menit akhirnya tepat jam 12.52 busyang saya naiki keluar dari lambung kapal KM Rajabasa 1 yang langsung disambut dengan gerimis. Baru berjalan sekitar 40 menit bus ini pun berhenti di Rumah Makan Siang Malam di daerah Kalianda. Saya heran, penumpangnya tidak ada yang turun. Crew juga tidak mengumumkan berapa lama kita akan berhenti. Melihat tidak ada penumpang yang turun sayapun ikut terdiam di dalam bus.. hehe. 15 menit berlalu perut sudah tidak bisa dikompromi untuk diisi. Khawatir nanti mengganggu jadwal perjalanan akhirnya sayapun memilih untuk membeli mie instan kemasan cup sebagai sarana untuk mengganjal perut. Benar saja baru saja naik bus untuk menikmati mie instan panas crew buspun naik dan langsung kembali melanjutkan perjalanan. Total waktu istirahat di rumah makan ini sekitar 20 menit.
Perjalanan di etape terakhir ini cukup menarik, jalanan yang hanya dua ruas dengan kontur berkelok dan naik turun menjadi hiburan tersendiri. Benar kata orang2 di line sumatera tidak perlu aksi injak gas dalam2 seperti di pantura. Kelincahan driver memutar lingkar kemudi yang disinergikan dengan perpindahan kaki kanan dalam memainkan pedal gas dan rem menjadi kunci utama di jalur ini. Terlihat skill driver bus ber nopol BE 2665 AU sangat mumpuni, dia mampu membawa kendaraan besar ini dengan halus tapi cukup cepat. Ya jelas mumpunilah, untuk menjadi pilot di bus dengan kelas tertinggi di suatu PO pastilah dia merupakan salah satu driver terbaik di PO tersebut. Satu lagi yang menarik di bus ini, tidak ada crew dan penumpang yang merokok, meskipun di bus ini disediakan smooking area yang dilengkapi dengan pemanas air untuk menyeduh teh atau kopi. Mungkin karena sekitar 70% penumpang bis ini adalah wanita ya.. hehe.
Akhirnya tepat jam 15.35 saya mengakhiri perjalanan di stasiun Tanjung Karang Bandar Lampung. Perjalanan selama 7,5 jam yang cukup menarik yang terbagi menjadi 3 etape. 2,5 jam pertama untuk Jakarta-Merak, 2,5jam kedua untuk Merak-Bakauheni dan 2,5 jam terakhir untuk etape Bakauheni-Bandar Lampung. Tiket seharga 175 rb untuk weekday yang sekilas terlihat mahal itu saya rasa masih pantas dijadikan alternatif perjalanan ke Lampung.
Selasa 28 Mei 2013 jam 07.35 taksi biru yang mengantar saya sudah tiba di stasiun gambir. Hmm makin elit saja nih stasiun, gerai2 penjual makanan sudah bukan kelas ecek2 lagi. Brand2 nasional dan internasional sudah pada berkumpul disitu.Sempat mampir di toilet yang berada di luar area peron ternyata juga sudah free of charge, dulu hanya yang di area dalam yang gratis. Stasiun ini sudah benar2 bersolek, sudah tidak kalah dengan bandara. Kapan ya terminal bisa berubah seperti ini juga? hehehe.
Royal Class lampung langsung naik pak? tanyaku pada beberapa bapak2 yang berseragam kementrian perhubungan berlabel Damri di lengan. Iya mas naik aja, itu bisnya bisnya yang warna merah, Jawab salah satu bapak dengan menunjuk arah bus merah yang sedikit tersembunyi diantara bus2 berwarna warna silver. Sudah ada beberapa penumpang di dalamnya. Saat beli tiket hari minggunya saya sudah tidak mendapat seat tunggal disebah kiri, tapi alhamdulillah hot seat nomor 3 bisa saya amankan.
Jam 07.55 asissten Driver membagikan snack pada semua penumpang, dan jam 08.05 bus inipun lepas landas dari parkiran Gambir. 21 seat yang dibenamkan diatas sasis MB 1526 ini semua terisi, padahal ini bukan week end, bahkan tadi sempat ada 2 penumpang yang akan membeli tapi dah tidak kebagian tiket bus ini. Kata ibu2 disamping saya yang hampir setiap bulan bolak balik Lampung Jakarta bis ini hampir selalu penuh, hampir mustahil dapat tiket kalo beli mendadak seperti dua orang tadi. Lampung memang lumbung emas bagi PO pelat merah ini. Kata teman kantor saya di Lampung, untuk yang kelas yang biasa (eksekutif dan bisnis AC) saja bisa berangkat 4 sampai 5 bus dari gambir, luar biasa bukan. Padahal PO saingannya justru gulung tikar dalam waktu yang lumayan singkat.
Butuh waktu sekitar 25 menit untuk membelah kemacetan Tomang Raya sampai akhirnya masuk tol Jakarta Merak di jam 08.30. Terlihat kepadatan lalu lintas di dalam tol yang mengarah jakarta, ekor kepadatan itu hampir menyentuh rest area di km 14. Di area Meruya saya sempat melihat bus Nusantara jurusan Palembang-Kudus yang ikut terjebak dalam kemacetan. Ahirnya bisa juga melihat bus itu melintas, dengar-dengar terobosan Nusantara membuka line Kudus - Palembang tidak terlalu memuaskan, okupansi penumpangnya sangat sedikit, benarkah demikian? Perjalanan Tangerang sampai merak dilalui dengan standar saja, bus dipacu oleh driver setengah baya ini dengan kecepatan rata-rata di jalan tol. Angka 100 Kpj sepertinya menjadi angka kramat yang tidak boleh dilewati. Aksi jaga jarak dan selalu mengambil jalur kiri saat jalanan kosong cukup sebagai bukti bahwa driver bus ini adalah pengemudi yang santun dalam berkendara. Jalur kanan benar2 hanya difungsikan untuk mendahului kendaraan di depannya.
Jam 9.45 bus berwarna merah sudah mencapai gate tol merak, dan hanya butuh waktu sekitar 15 menit untuk langsung masuk ke KM Rajabasa 1 di dermaga satu pelabuhan merak. Yang menarik disini ternyata bus ini menggunakan jasa pemandu untuk menuju ke kapal. Entah apa status dari pemandu ini, yang pasti dia naik dari pintu gerbang dermaga untuk selanjutnya membimbing driver bus kami menuju kapal yang benar2 sudah siap berangkat. Saat bis mencapai pintu kapal barulah sang pemandu tersebut turun. Tepat jam 10.20 terompet besar dari kapal motor inipun berdengung, yang menjadi tanda kapal ini angkat jangkar dari pelabuhan.
Perjalanan selama 2,5 jam di dalam kapal saya habiskan untuk menonton TV kabel di ruang eksekutif. Untuk memakai jasa ruang eksekutif ini saya harus menambah lagi Rp. 10.000 kepada petugas yang menarik ongkos saat kapal sudah berlayar menuju pulau sumatera. Jam 12.40 kapalpun sandar di pelabuhan Bakauheni, setelah mengantri keluar sekitar 12 menit akhirnya tepat jam 12.52 busyang saya naiki keluar dari lambung kapal KM Rajabasa 1 yang langsung disambut dengan gerimis. Baru berjalan sekitar 40 menit bus ini pun berhenti di Rumah Makan Siang Malam di daerah Kalianda. Saya heran, penumpangnya tidak ada yang turun. Crew juga tidak mengumumkan berapa lama kita akan berhenti. Melihat tidak ada penumpang yang turun sayapun ikut terdiam di dalam bus.. hehe. 15 menit berlalu perut sudah tidak bisa dikompromi untuk diisi. Khawatir nanti mengganggu jadwal perjalanan akhirnya sayapun memilih untuk membeli mie instan kemasan cup sebagai sarana untuk mengganjal perut. Benar saja baru saja naik bus untuk menikmati mie instan panas crew buspun naik dan langsung kembali melanjutkan perjalanan. Total waktu istirahat di rumah makan ini sekitar 20 menit.
Perjalanan di etape terakhir ini cukup menarik, jalanan yang hanya dua ruas dengan kontur berkelok dan naik turun menjadi hiburan tersendiri. Benar kata orang2 di line sumatera tidak perlu aksi injak gas dalam2 seperti di pantura. Kelincahan driver memutar lingkar kemudi yang disinergikan dengan perpindahan kaki kanan dalam memainkan pedal gas dan rem menjadi kunci utama di jalur ini. Terlihat skill driver bus ber nopol BE 2665 AU sangat mumpuni, dia mampu membawa kendaraan besar ini dengan halus tapi cukup cepat. Ya jelas mumpunilah, untuk menjadi pilot di bus dengan kelas tertinggi di suatu PO pastilah dia merupakan salah satu driver terbaik di PO tersebut. Satu lagi yang menarik di bus ini, tidak ada crew dan penumpang yang merokok, meskipun di bus ini disediakan smooking area yang dilengkapi dengan pemanas air untuk menyeduh teh atau kopi. Mungkin karena sekitar 70% penumpang bis ini adalah wanita ya.. hehe.
Akhirnya tepat jam 15.35 saya mengakhiri perjalanan di stasiun Tanjung Karang Bandar Lampung. Perjalanan selama 7,5 jam yang cukup menarik yang terbagi menjadi 3 etape. 2,5 jam pertama untuk Jakarta-Merak, 2,5jam kedua untuk Merak-Bakauheni dan 2,5 jam terakhir untuk etape Bakauheni-Bandar Lampung. Tiket seharga 175 rb untuk weekday yang sekilas terlihat mahal itu saya rasa masih pantas dijadikan alternatif perjalanan ke Lampung.
Hari Buruh dan Hari Pendidikan Nasional
Baru kemarin kita merayakan hari buruh. Meski hari libur antusias buruh di negeri ini yang sebagian besar hampir diperlakukan seperti "budak" untuk berdemo sangat luar biasa. Hasilnya Jakarta macet total, jalan ke bandara juanda di blokir. Sepertinya itu aktivitas rutin buruh kita setiap may day adalah demo, demo dan demo, hasilnya cuma berpanas2 ria, sweeping ke pabrik2 dan berkonvoi dimana-mana meski tanpa pernah ada perubahan nasib.
Belum selesai euforia hari buruh kemarin, hari ini kita sudah menyambut hari yang tidak kalah penting lagi, yaitu hari pendidikan nasional. Saya mikir lho kok berurutan ? apakah ada korelasi antara hari buruh dan hari pendidikan ? Apa cuma kebetulan aja ?
Ada korelasi atau tidak yang pasti faktanya seperti ini waktu kecil kita semua pasti sekolah, setelah lulus langsung berubah status menjadi buruh !
Berarti urutannya sekolah dulu terus jadi buruh. Tapi kok hari peringataannya terbalik ya ? Hari buruh dulu terus hari pendidikan ? Apa ada yang salah ? apa karena hari buruh itu internasional terus hari pendidikan cuma nasional ? atau ada maksud lain ?
Lha terus kalo memang urutannya sudah benar, berarti kita yang salah dong? Sekolah diajarin macem macem, mulai belajar hitung hitungan, peta, mahluk hidup, mahluk mati, bahkan benda yang tidak terlihat seperti atom terus lulus jadi buruh, digaji UMK lebih dikit, gak masuk potong gaji dll.
Jawaban yang paling gampang mungkin karena faktor kebetulan aja, yang menetapkan hari buruh kebetulan bukan orang dunia pendidikan atau yang menetapkan hari pendidikan gak pernah jadi buruh.. hehehe
Walau masih bingung dengan korelasi keduanya yang pasti saya mengucapkan "Selamat Hari Buruh" buat para buruh dan "Selamat Hari Pendidikan Nasional" buat para pelajar dan para pendidik !!
(Ditulis pertama tanggal 2 Mei 2011)
Belum selesai euforia hari buruh kemarin, hari ini kita sudah menyambut hari yang tidak kalah penting lagi, yaitu hari pendidikan nasional. Saya mikir lho kok berurutan ? apakah ada korelasi antara hari buruh dan hari pendidikan ? Apa cuma kebetulan aja ?
Ada korelasi atau tidak yang pasti faktanya seperti ini waktu kecil kita semua pasti sekolah, setelah lulus langsung berubah status menjadi buruh !
Berarti urutannya sekolah dulu terus jadi buruh. Tapi kok hari peringataannya terbalik ya ? Hari buruh dulu terus hari pendidikan ? Apa ada yang salah ? apa karena hari buruh itu internasional terus hari pendidikan cuma nasional ? atau ada maksud lain ?
Lha terus kalo memang urutannya sudah benar, berarti kita yang salah dong? Sekolah diajarin macem macem, mulai belajar hitung hitungan, peta, mahluk hidup, mahluk mati, bahkan benda yang tidak terlihat seperti atom terus lulus jadi buruh, digaji UMK lebih dikit, gak masuk potong gaji dll.
Jawaban yang paling gampang mungkin karena faktor kebetulan aja, yang menetapkan hari buruh kebetulan bukan orang dunia pendidikan atau yang menetapkan hari pendidikan gak pernah jadi buruh.. hehehe
Walau masih bingung dengan korelasi keduanya yang pasti saya mengucapkan "Selamat Hari Buruh" buat para buruh dan "Selamat Hari Pendidikan Nasional" buat para pelajar dan para pendidik !!
(Ditulis pertama tanggal 2 Mei 2011)
Langganan:
Postingan (Atom)
