Minggu, 16 Februari 2014

Antara 34, 119, 138 dan APTB

Poris memang bukan gudangnya bis kota, tapi paling tidak terminal ini juga dilayani beberapa bis kota, yang ternyata penumpangnya juga banyak lho. Coba saja dijam kerja naik bis2 yang pemberangkatan poris, niscaya saat berada di tol Tangerang-jakarta anda akan berdesakan bersama 80-an orang lainnya di dalam bus.

Sehari hari saya mencangkul di daerah Jakarta selatan, tepatnya di Jalan MT Haryono, Tebet. Meski tidak setiap hari naik bis kota ke kekantor tapi paling tidak saya pernah mencoba hampir semua bus kota yang melayani trayek Terminal Poris - kantor saya (Pancoran). Berikut sedikit corat coret saya tentang beberapa bis kota yang saya pakai untuk menuju kantor :

1. Mayasari bakti AC 34 (Poris - Blok M)
Boleh dibilang ini adalah bis favorit saya, saya paling sering menggunakan armada bus ini, meski saya harus turun slipi dan melanjutkan perjalanan ke kantor dengan Transjakarta atau Mayasari P 55. Bis ini dibekali dengan armada armada yang masih relatif baru, Hino AK8. Konfigurasi 59 seat dengan pintu tengah di sasis baru yang lumayan panjang ini membuat tempat duduk di bis ini terasa cukup lega untuk ukuran bis kota. Keunggulan bis ini daripada yang lain adalah jarak antar bisnya yang cukup rapat membuat bis ini tidak pernah ngetem. Rata2 butuh waktu 30 menit dari terminal poris untuk menyeser penumpang sampai akhirnya masuk tol Karawaci.

2. AJA 138 (Poris - Blok M)
Sudah cukup lama saya meninggalkan bis ini. Trayeknya hampir sama dengan AC 34, cuma bis ini terkesan sedikit lelet.. hehe. Saya pernah terlambat mengikuti sebuah training di Slipi gara2 bis ini ngetemnya kelamaan. Kadang butuh waktu 1 jam untuk masuk Tol Slipi. Beberapa kali naik ini bis selalu bisa di blong oleh AC 34 sebelum masuk tol.

3. AJA 119 (Poris - Kampung Melayu)
Jika pengen hemat seharusnya saya naik bis ini, cukup membayar Rp. 6500,- naik dari terminal poris dan langsung turun depan kantor. Kelemahan dari bis ini adalah, bisnya dah cukup tua, serta jumlahnya yang sedikit membuat jarak antar busnya cukup jauh. Lewat sedikit harus menunggu lama untuk dapat bis dibelakangnya. Keunggulannya selain saya bisa langsung turun depan kantor bis ini juga keluar di tol semanggi sehingga tidak perlu bermacet-macet ria di tomang/slipi.

4. APTB 03 (Poris - Taman Anggrek)
Saat bis ini dilauncing tahun 2012 saya langsung bersorak. Masalah yang menimpa saya saat pulang kerja dimana tidak ada bus yang mengantar sampe terminal porispun terpecahkan. Tapi sayang bus ini bertrayek melewati Daan mogot yang terkenal super macet, alhasil jika berangkat kerja naik bis ini saya sering kesiangan sampai kantor. Untuk Kepulangan saya masih bisa mengandalkan bis ini, meski jarak antar bisnya masih terlalu jauh dan lama. 

5. APTB 13 (Poris - Pulogadung)
Merupakan pemain baru di jalur poris. Dengan embel embel terintegrasi busway yang secara teory menawarkan waktu tempuh yang lebih cepat membuat bus yang dioperasikan Mayasari Bakti ini punya masa depan yang nampaknya cukup cerah. Kelemahannya satu, tarifnya cukup mahal Rp. 15.000,-. Tarif ini sama dengan APTB Cikarang - Kalideres yang sudah pasti jaraknya lebih jauh, bahkan masih lebih mahal dari APTB Jakarta Bogor. Untuk keberangkatan ke kantor sepertinya saya masih harus mencoret bis ini maklum meski bisa langsung turun didepan kantor tapi embel embel tarif Rp. 15.000,- terasa masih cukup mahal buat saya.

Dengan berbagai macam pilihan tersebut seharusnya tidak ada kendala untuk tiap hari saya ngantor menggunakan angkutan umum dengan bis kota. Tapi yang jadi kendala kenapa saya masih lebih sering menjadi seorang biker adalah : Saya tidak pernah kesulitan untuk berangkat menuju kantor, tapi saya selalu kesulitan untuk pulang ke rumah saat petang/malam hari. AC 34, 138, dan 119 tidak pernah sampai poris saat petang atau malam hari, jangankan poris, cikokol saja tidak pernah. Bis ini rata2 berputar di daerah karawaci. Artinya saya harus nyambung angkot sampai 3x untuk sampai ke Poris. APTB 03, juga bukan solusi tepat. terkadang saya harus menunggu sampai 45 menit di halte Central Park. APTB 13 belum pernah saya coba di malam hari, tetapi saya selalu liat bis ini selalu berputar arah di bawah fly over cikokol (veteran).

So, ada yang punya saran agar saya bisa sampai rumah dibawah jam 20.00? sehingga saya bisa meninggalkan status sebagai seorang biker? Tapi sarannya jangan disuruh naik KRL ya, saya malas harus oper 3x untuk sampai ke kantor. hehe

Rabu, 27 November 2013

Jakarta - Cirebon with Argo Jati

Kereta api boleh dibilang saat ini menjadi moda transportasi yang paling bisa diandalkan, terutama di sisi ketepatan waktunya. Pesawat udara makin hari makin tak terbendung delaynya. Kepadatan bandara mungkin jadi factor utamanya, disamping factor internal dari maskapai itu sendiri. Bus antar kota juga semakin susah ditebak waktu tempuhnya. Infrastruktur jalan yang buruk dan kepadatan lalu lintas menjadi biang keroknya.


Kemarin, senin tanggal 25 November 2013 saya melakukan perjalanan dengan Kereta Api Argo Jati, kereta yang dari PT KAI diberi nomor 18 ini start dari stasiun Gambir (GMR) jam 17.25 pas sesuai dengan Gapekanya. Kalo gak salah kereta ini membawa 9 rangkaian Gerbong. 6 K1 (kereta penumpang kelas 1), 1 KM1 (kereta makan kelas 1) 1 KP (kereta pembangkit) dan satu kereta barang. Saya tidak memperhatikan betul nomor seri gerbongnya, maklum saja saya bukan railfans, tapi bismania yang sedang mengagumi kinerja PT KAI .. hehe. KA ini ditarik oleh lokomotif CC 203 xxxx, lagi2 saya gak perhatikan nomor seri lokonya.. xixi


Sempat tertahan di stasiun cikini karena padatnya lalu lintas KA di jam sibuk, akhirnya berjalan lancar tanpa hambatan berarti. Baru melintas stasiun klender petugas reska langsung menawari para penumpangnya makanan dan minuman. Meskipun makanan dan minuman di kereta tergolong cukup mahal tapi tidak sedikit kok penumpang yang memesannya. Jam 19.45 kereta ini berhenti di stasiun Jatibarang, cukup 2 menit selanjutnya joss lagi menuju tujuan akhir. Tepat jam 20.15 kereta andalan Daop III Cirebon ini finish di jalur 5 Stasiun Cirebon (CN). Saya pikir kereta ini terlambat dari Gapeka seharusnya, ternyata saat melihat Gapekanya di tiket ternyata jam kedatangan kereta ini seharusnya jam 20.18. Luar biasa bukan? hehehe


Kamis, 07 November 2013

Mengejar Absen Pagi dengan Kuda Putih

 
Saya sangat terkejut saat menelpon nomor HP 08123444xxx, “Bisnya berangkat jam 10.30 mas, nanti masnya harus siap di terminal jam 10.00 ya !” itulah kata agen Haryanto terminal Seloaji Ponorogo. Ternyata keberangkatan bus2 ponorogo sangatlah awal, lebih awal dari bus dari Surabaya, Malang, Madura bahkan Jember sekalipun. "OK pak nanti tiketnya saya bayar pas saya nyampe ponorogo ya!" Jawab saya.  "Gak papa mas" Jawabnya kembali.
 
Setelah malamnya melalui perjalanan datar dan hanya dihiasi dengan tidur akhirnya sekitar jam 9 pagi saya menginjakkan kaki di terminal Seloaji Ponorogo. Saya langsung bergegas mencari Agen PO Haryanto di sana. Ternyata Agen PO yang identik dengan menara Kudus ini jadi satu dengan PO Puspa Jaya. Kesan pertama saya terhadap terminal ini adalah, sepi tanpa gairah. Setelah menebus tiket untuk kepulangan besok, sayapun mengeksplor keindahan kota Ponorogo. Telaga Ngebel, Festival Reog di Alun-alun, Pondok Pesantren Modern Gontor, dan Petilasan Kyai Ageng Muhammad Besari  adalah destinasi yang saya tuju. Kata teman kuliah saya yang menjadi guide tour sehari itu, Ponorogo akan sangat ramai saat menjelang Tahun Baru Hijriah seperti ini. Banyak warganya yang menjadi perantau akan pulang di bulan bulan ini. Grebeg syuro adalah salah satu daya tarik perantau dari daerah ini untuk kembali ke tanah kelahirannya.
 
 
Minggu 3 November 2013
 
Cukup semalam di Ponorogo sayapun menuju terminal Seloaji. Jam 10.15 saya sudah memasuki pelataran terminal type A tersebut. Sesuai janji saya kepada agen HR di sana. Kemarin saat menginjakkan kaki kali pertama di terminal tersebut tampak tidak ada tanda2 gairah bus malam di sana. Ternyata saya salah, bus malam justru terparkir di halaman belakang ini terminal. Kumpulan agen justru berada di wilayah terminal angkutan dalam kota. Laju Prima, Gunung Harta dan Kramat Djati adalah mahluk-mahluk yang banyak memenuh terminal ini, disamping pemain AKDP seperti Restu, Jaya dan Cendana tentunya. Saya sempat bertanya kepada mbak yang menjaga agen HR, tentang bis apa yang menjadi penguasa untuk trayek Ponorogo – Jakarta. “Kramat Djati mas”, katanya. Benar saja, ketika ada pengumuman penumpang Kramat Djati segera memasuki bis langsung saja area di kumpulan agen di sana menjadi sepi. Tidak lama kemudian dari arah belakang nampak rombongan mbak KD meninggalkan terminal. Saya hitung ada sekitar 7 sampai 8 bis yang meninggalkan terminal dalam waktu hampir bersamaan.

Dari Ponorogo ini oleh agen saya dikutkan bus Haryanto dengan kode HR 77. Bus saya sebenarnya adalah HR 95 yang nanti baru bisa saya naiki di terminal Kartosuro.  Bus strat dari Ponorogo jam 11.35, terlambat 1 jam dari jadwal yang sebenarnya. Dari Ponorogo bus ini hanya terisi 3 orang. Saya, Istri saya dan satu penumpang puter kepala yang sudah bisa ditebak dia pasti seorang bismania juga.. hehehe. Menyisir agen2 di Maospati, Ngawi dan Sragen barulah 2/3 dari isi kabin HR 77 terisi. Jam 15.30 HR 77 masuk terminal Kartosuro. Di terminal ini berkumpul sekitar 6 bus HR yaitu HR 53, HR 77, HR 95, HR 107, HR 108 dan HR 06.

Ramai juga penumpang HR di hari itu. Di sana juga nampak bos Muda PO Haryanto, Mas Rian Mahendra yang ikut mengawasi operational HR divisi selatan ini. Saya masih ingat saat Kopdar Haryanto Mania feat BMC Banten di terminal poris, beliau berjanji akan terjun langsung  untuk memperbaiki pelayan HR div Solo dst. Benar saja 2 minggu setelah itu wilayah ini langsung digelontor bis bis baru. :-). Saya jadi berfikir, gimana reaksi pemain pemain lama di jalur itu. Areanya kini diserang oleh pemain baru dengan bus-bus kinyis2 dan tarif murah. Apakah akan ada pergeseran peta persaingan dan strategi bisnis per PO-an di jalur ini? Kita tunggu saja 1 atau 2 tahun mendatang.
 
 
 
Sample picture
 
 
 
Jam 15.46 HR 95 "Kuda Putih" mulai angkat jangkar dari terminal Kartosuro. Larinya cukup trengginas mulai dari Kartosuro sampai menjelang Salatiga, selanjutnya harus ikut jalan klunak klunuk karena kemacetan panjang dari Salatiga sampai Ungaran.. xixixi. Masuk agen Banyumanik sekitar jam 18.15, dan krapyak jam 18.43 lalu minum solar sebanyak banyaknya. Setelah sukses melibas Kramat Djati setra, Gajah Mungkur VIP dan LP 57 kuda putih ini masuk Rumah Makan Menara Kudus. Disana sudah terparkir HR 07 “Pukat” yang bertugas melayani trayek Purwodadi – Poris. Menu rumah makan ini terbilang cukup baik. Setidaknya ada 3 pilihan makanan untuk memanjakan penumpang disini. Pilihannya mulai dari makanan standar service bis malam seperti ayam goreng, oseng2 kacang dan sop, di sini juga tersedia soto ayam dan nasi goreng.
 
Jam 20.15 kuda putih mulai digiring menuju jalan pantura. Joki tengah kuda putih ini langsung memecut tunggangannya untuk berlari. Tanjakan plelen menjadi aksi pertama dari sang joki.  Tanpa mengindahkan antrian kendaraan yang menunggu menanjak, bis ini langsung ambil kanan untuk melibas antrian. Kramat Djati livery orange, Trans Zentrum TZ 20, dan Gunung Mulia Putra harus menyingkir disini. Bukan cuma jago menanjak saja, ternyata si kuda putih juga sangat lihai meliuk luik di jalanan menurun. Garuda Mas new Celcius bisa dilewati di sini.Setelah sempat menurunkan 2 penumpangnya kembali si kuda putih dipacu oleh sang joki. Royal Safari dan Garuda Mas kembali bisa dilewati. LP 75 Legacy SR1 mencoba mengimbangi, tapi ternyata gak bertahan lama. Bus dari group HIBA itu langsung menyerah. KD Orange plat D dan Coyo juga masih terlalu mudah dilewati. Di depan Coyo terlihat Tunggal Dara Legacy SR1 yang terus berusaha menutup jalan si kuda putih. Beberapa kali di serang  baik itu dengan aksi tempel rapat, goyang dari kanan atau kiri si Merah Maron itu selalu bisa membloknya. Bahkan kejar kejaran dua bus ini mampu meminggirkan Laju Prima LP 89. Bus dengan banner Goes to waduk gajah Mungkur itu baru bisa ditaklukkan saat kuda putih sedikit memaksa masuk di sebuh tikungan di tengah kota batang, hehehe bye bye Tunggal Dara.
 
Di Pekalongan TZ 28 dan Kramat Djati Orange D 7658 AE dan HR 07 ternyata masih kalah cepat dengan si kuda putih ini. Selanjutnya saya sudah tidak ingat apa saja aksi kuda putih ini. Buaian Air suspension hasil modifikasi enginer2 Adi putro di sasis HINO RK8 ini membuat saya memasuki gerbang alam mimpi. Saya terbangun saat si kuda putih memburu Gunung Harta di jalanan menuju Tol Kanci. Hahaha, terjadi kejar kejaran sesama pemain baru jalur ponorogo – Jakarta ternyata. Tampaknya si ijo dari Tabanan itu tidak mau begitu saja menyerahkan posisinya ke Kuda Putih. Di Ponorogo sendiri tampaknya si Gunung Harta ini cukup berkembang. Baru sekitar 2 tahun membuka line ini rata2 dalam sehari mereka sudah bisa memberangkatkan 6 bus ke Ibukota. Di Ponorogo sendiri HR memang belum terlalu moncer. Info dari seorang admin HR Mania, paling banyak mereka memberangkatkan 5-6 orang dari kota reog itu. Mungkin karena kondisi itulah yang membuat si ijo itu terus berlari meladeni tantangan si kuda putih. Bus hijau itu terus berlari seakan berkata “dari ponorogo sebelah mana lue, berani berani membalap gue”. Hehehe.
 
Masuk tol Kanci – Palimanan barulah si Gunung Harta bisa ditaklukkan. Di tol ini sang pawang nampak terus memecut tunggangannya dengan keras. Mungkin Bapak ini sadar, hari ini adalah malam senin. Banyak penumpangnya yang butuh sampai tujuan sepagi mungkin. Kuda putih berlari bak kesetanan, Rosalia Indah NL 278, 3 Sinar Jaya, Gajah Mungkur, Famili Raya Ceria, 2 Pahala Kencana nano-nano, Malino Putra, Sedya Mulya dan Dewi Sri adalah daftar korban kecepatannya. Keluar tol palimanan kembali kuda putih ini menyingkirkan Pahala Kencana SR1, 2 Sinar Jaya Proteus, Bus Parwis BGS trans, dan Sinar Jaya 72 dx serta 26 dx. Tidak diduga BGS trans kembali menyodok ke depan saat laju si kuda putih tertahan oleh sebuah truk. Kuda putih langsung bereaksi, BGS Trans langsung dikejar, tapi bus pariwisata ber plat R 1600 AE itu keburu lari terbirit birit sambil melewati Pahala Kencana. Setelah terus menerus ditekan oleh kuda putih si BGS pun menyerah. Lepas BGS si kuda putih masih harus menyingkirkan beberapa Sinar Jaya. Tampaknya itu adalah jamnya para laskar pelangi dari purwokerto/wonosobo melintas.
 
Lepas dari rombongan sinar jaya kuda putih seakan menjadi raja jalanan. Membelah pantura indramayu dengan kencang tanpa ada perlawanan berarti. Gunung Mulia Nucleus, Laju Prima LP 74, dan ALS belum bisa dikatakan sebagai lawan yang sepadan. Demikian juga dengan Kramat Djati “SAMIN” B 7530 PV, Garuda Mas Euroliner, dan Setia Negara. Aksi monoton tanpa lawan sebanding membuat saya kembali tertidur. Terbangun saat si kuda putih terjebak dalam kemacetan di daerah Cikalong. Entah sudah berapa lama bus ini tertahan, yang pasti posisinya ada di sebelah kiri. Jam saat itu menunjukkan pukul 01.38. Saya hanya bisa memandangi belasan bus bus malam yang nekat merampok jalur lawan. Pahala Kencana, Kramat Djati, Sinar Jaya, HR 05, bahkan pemain kalem seperti Dewi Sri dan Purwowidodo. Setelah cukup lama tertahan kuda putih mulai mencoba merangsek ke jalur 2. Setelah mendapat info dari sesama driver HR yang sudah ngeblong jalur kanan duluan sang driver tengah membawa kuda putih ini mengambil jalur 3. hehehe. Sudahlah saya tidak akan menceritakan panjang lebar bagaimana aksi ngeblong jalur lawan ini dilakukan, Yang pasti kemacetan terjadi sampai Simpang Jomin. Jika terus bertahan di jalur yang benar mungkin bisa hilang waktu lebih dari 1 jam.
 
Sang driver tengah mengarahkan kuda putih ini mengarah ke Cikampek menuju Klari, karena permintaan sekitar 4 penumpang bis ini yang hendak turun klari. Sekitar jam 03.05 kuda putih diarahkan oleh driver pinggir masuk tol Karawang timur. Masih dini hari, tol Jakarta – Cikampek masih lancar. Kuda putih kembali dipacu sekencang mungkin. Jam 04.03 bus ini keluar tol Slipi Jaya, dan akhirnya jam 04.32 bus ini masuk ke terminal Poris Plawad. Saya pun mengakhiri perjalanan di sini. Wajah sumringah ditunjukkan istri saya saat turun dari bus. Bisa tidur pulas karena kenyamanan suspesnsi udara dari kuda putih dan yang pasti tidak akan terlambat ngantor di hari senin pagi. Sekitar 10 menit kemudian saya sampai dirumah, sholat subuh dan melanjutkan tidur kembali.   

Selasa, 15 Oktober 2013

Hendri kecil dan daging Kurban

Saat hari raya Idul Adha seperti ini saya selalu teringat kejadian waktu saya SD dulu. Jaman dulu orang berkurban tidak banyak. Di lingkungan warga (RW) tempat tinggal saya dulu paling banyak hanya menyembelih 4-6 ekor kambing untuk 1 RW. Keluarga saya adalah keluarga yang belum mampu untuk berkurban tetapi juga bukan keluarga yang berhak mendapatkan jatah daging kurban.

Di suatu idul adha saya bertekad membantu panitia penyembelihan hewan kurban yang kebetulan adalah guru ngaji saya dengan sedikit harapan ikut mendapat jatah daging kurban. Akhirnya saya dan teman2 yang lain kebagian untuk mencuci jeroan kambing di sungai. Setelah dibagi bagi ternyata tidak ada secuilpun daging kurban yang diberikan kepada saya. Akhirnya sayapun pulang ke rumah dengan menangis. Bapak saya tidak tega melihat saya menangis, akhirnya beliaupun membelikan saya 10 tusuk sate kambing.

Tapi jaman sekarang sudah berubah. Orang yang mampu berkurban semakin banyak. Idul adha sudah menjadi pesta besar bagi semua orang, sate dan olahan daging hamper pasti tersedia di meja makan setiap rumah.

Kamis, 03 Oktober 2013

Green Area (2)

Catatan Perjalanan "Green Area" (2)
Saya terbangun saat pak Zakaria sedang mengikuti Sinar Mandiri yang sedang melaju kencang di daerah Rembang. Saat di depan terlihat mulai ada penumpukan kendaraan karena kemacetan, Sinar Mandiri langsung mengambil jalur kanan. Ternyata pak Zakaria malah ikut membuntuti bus dari Restu group yang terkenal sebagai raja jalanan Jalur Surabaya - Semarang itu. Hasilnya dua bis berwarna dominan hijau ini mampu melewati bis Hijau lain Gunung Harta yang terjebak di kemacetan. Lepas kemacetan ternyata pak Zakaria masih meladeni gaya si Sinar Mandiri, aksi goyang kanan kiri melibas truk2 yang memadati jalan ditunjukkan dua bis beda kelas ini. Tidak berapa lama kemudian terlihat pantat pemain jalur Surabaya – Semarang lainnya, si Widji Lestari. Meski hanya bermodalkan mesin Hino RKT terlihat si Widji itu sangat mengenal medan. Puluhan truk yang memadati jalur Rembang Pati bisa dilibas dengan permainan sein yang cukup cantik. Si Sinar Mandiri ternyata tidak sabar hanya bermain main dengan bus2 ber AC yang ada di depan dan di belakangnya. Saat jalanan semakin rapat dengan truk, bumel ini malah langsung melesat meninggalkan Widji Lestari dan busku. Cukup lama juga pak Zakaria bermain main dengan Widji, jalanan cukup padat dan tanpa separator membuat aksi kedua bus ini terlihat cukup menarik. Saat jalanan mulai agak lenggang tampaknya si Widji tau diri, mesin Hino RKT miliknya tidak mungkin bisa menandingi OM 906 LA milik LE 441, akhirnya diapun memberikan jalan kepada kami untuk mendahuluinya.
 
Lepas dari Widji paka Zakaria masih konstan dengan kecepatannya. Jarum speedometer stabil di angka 80-90 Km. Tidak lama setelah melewati alun2 kota pati terlihat lampu belakang dari Galaxy milik Malino Putra. Iya itu bus Malino Putra yang tadi ketemu di rumah makan Taman Sari. Bus berkode MPR 03 dengan trayek Malang – Jakarta itu seakan sadar ada lawan mengintai di belakangnya. Ia pun langsung berlari menghindar dari kejaran si Ijo bisku. Pak Zakaria gak mau kalah, secepat apapun si Malino berlari, dia terus berusaha mengejar. Sekitar 5 menit kejar kejaran akhirnya si Malino menyerah juga. Tidak cukup dengan Malino Pak Zakaria juga melibas bus Pariwisata Indah Jaya, dan Kramat Djati D 7580 AE yang tadi juga bertemu di Taman Sari.
 
Saya sedikit melewatkan aksi LE 441 ini di ruas Kudus sampai Semarang. Handling yang smooth dari Pak Zakaria membuat saya terlelap dan baru terbangun saat bus berhenti cukup lama di Agen Semarang. Sepertinya mas kernet sedang melakukan unloading paket. Ini salah satu kelemahan dari Lorena, busnya kebanyakan bawa paket. Hasilnya setiap berhenti di agen jadinya lama, hehe. Padahal dah punya bus paket sendiri ya? *#:-S whew!Hasilnya KD dan Malino yang tadi dah tercecer di belakang kembali berada di depan.
 
Weleri, Batang, Pekalongan, Pemalang lingkar kemudi masih di tangan Pak Zakaria, kecepatan bus ini juga masih cukup konstan di angka 80-90 Kpj. Asyik bisa masuk Jakarta sebelum jam 10 pagi ini batinku. Jam 02.05 sampailah LE 441 ini di SPBU Muri di Tegal. SPBU ini tampaknya menjadi tempat kontrolan bagi pasukan pasukan Ijo yang mengarah ke Barat. Busku mendapat limpahan penumpang tujuan pulau Sumatera dari KE 551 dari Sumenep. Butuh waktu 30 menit bis ini untuk berhenti di SPBU dengan toilet terbanyak di Indonesia itu. Saat Pak Suparno membawa bus ini melewati kota Brebes tampak lampu belakang jetbus milik Akas Asri. Semoga pak Suparno terlecut untuk mengejar saingannya dari Jember itu, harapku J. Setelah bus asli probolinggo tersebut sempat menjauh ternyata LE 441 mampu juga mendekat. Keduanyapun beriringan layaknya teman seperjalanan. Iring-iringan dua bis yang sama-sama start dari Jember ini terpisah di pertigaan rel KA Pejagan. Akas memilih lurus menuju Kanci sedangkan busku belok kiri menuju tol Pejagan.
 
Jam 05.20 Pak Suparno membelokkan bus ini masuk ke rumah makan Taman Sari 2 di Pamanukan. Di sana sudah terparkir 3 bus Harapan Jaya. Lumayan masih bisa sholat shubuh dan unloading isi perut.. hehe. Cukup lama bus ini berhenti, crew baru naik bus saat jam menunjukkan pukul 06.10. Hmm 50 menit waktu yang dibutuhkan untuk istirahat pagi, jelas itu pemborosan waktu.. *~X( at wits' end. Sampai di Cikopo bus ini kembali berhenti di agen untuk loading paket, kontrol dan tukar-tukar penumpang. Lagi waktu 25 menit harus terbuang disini. *~X(
 at wits' end*~X( at wits' end. Saat berhenti terlihat 2 PK nano nano, KD, Malino Putra, dan Akas Asri melewati kami.
Sample picture
 
Pak Zakaria kembali mengambil alih lingkar kemudi di etape terakhir ini. Style mengemudi bapak satu ini memang cukup trengginas, beliau terus memacu tunggangannya dengan cepat dan halus. Beliau juga tidak segan-segan mengambil jalur paling kanan yang sebenarnya terlarang buat bus. Saat kemacetan badan jalan juga kadang-kadang diambil untuk secepat mungkin masuk Jakarta. Aksi pak Zakaria tersebut mampu menyingkirkan kembali Malino Putra, PK 7698 IZ, Harapan Jaya. Bahkan saat harus sodok menyodok di gerbang tol Halim LE 441 ini berhasil melewati mantan second strikernya Poris Haryanto Phoebus, HR 29 yang sekarang bertugas untuk trayek Sumenep – Jakarta.
 
Akhirnya jam 09.40 LE 441 ini merapat di agen Lorena di jalan Pemuda di depan kampus Universitas Negeri Jakarta, Rawamangun. 50% penumpang bus ini yang bertujuan pulau sumatera turun disini. Hanya penumpang tujuan akhir Rawamangun, Bogor dan Pekanbaru yang masih terus berada di dalam kabin. Iya 50 % penumpang bus ini adalah penumpang tujuan pulau Sumatera. Rupanya ini toh yang membuat lorena masih menjadi numero uno di Jember dst. Dengan Lorena untuk menuju Sumatera mereka cukup sekali beli tiket dan langsung diantar dengan sampai tujuan. Karena proses unloading yang cukup lama dan ada taksi biru parkir dekat dengan lokasi unloading ini sayapun memutuskan mengakhiri perjalanan di sini. Saat putar balik menuju tol dalam kota, terlihat Akas Asri yang baru mengarah menuju Rawamangun. Hmm bisa 15 menit lebih cepat dari Akas ternyata, lumayanlah.. hehehe
 
Sebelum berpisah saatnya saya akan beri penilaian terhadap bus ini. Waktu tempuh tidak mengecewakan, masih bisa bersaing dengan PO2 yang terkenal dengan kecepatannya. Duet driver senior dengan skil yang yahud menjadi sisi positif dari LE 441 ini. Kesigapan dari asissten driver juga patut diacungi jempol. Setiap berhenti istirahat asisten driver selalu bisa membuat kabin bus menjadi bersih dan wangi, air toiletpun tidak pernah kehabisan. Sedangkan lamanya waktu pemberhentian sedikit mengurangi nilai dari PO ini. Untuk bus dengan kelas eksekutif saya rasa kombinasi seat 8 baris kiri dan 9 kanan plus smooking room membuat kesan bus ini terkesan kurang nyaman.
(Sekian)

Green Area (1)

Catatan Perjalanan "Green Area"
Setiap hari PO ini selalu memberangkatkan 5 bus, 2 bus dari Banyuwangi, 2 bus dari Jember dan 1 bus jurusan Banyuwangi - Lampung. Saya heran, disaat PO ini sudah mulai ditinggalkan penggemarnya di kota2 lain (pulau jawa) tapi kenapa masih bisa menjadi numero uno di daerah sini. Rasa penasaran itulah yang membuat saya bertekat ingin kembali mencoba service PO yang pernah menjadi legenda di tanah air kita ini. Meskipun saya harus mengesampingkan sensasi pelari cepat dari armada-armada ombak biru Pahala Kencana, atau seat lebar nan empuk by aldilla dengan konfigurasi 7 baris milik Akas Asri. Pilihan lain yang saya tepis adalah tebak tebak buah manggis armada gado2 milik OBL, atau ayunan lembut suspensi MB 1626 milik Rosalia Indah.

Memilih PO ini sebenarnya penuh dengan perjudian. Beberapa kali saya mendengar PO ini menggunakan armada terbaru mereka Mercedes Benz O 500R 1836 untuk trayek Jember/Banyuwangi. Tapi tidak jarang juga saya melihat bus ini baru memberangkatkan penumpangnya jam 3 sore dengan armada2 cooler berbody RS yang sudah bulukan. OK lah, sekali kali kita perlu juga berjudi , jika beruntung kemewahan dari armada Mercedez benz OH 1836 akan didapat jika tidak maka MB OH 1521 bulukan akan siap menjadi bulan-bulanan bus2 malam lainnya.. hehehe

Minggu, 29 September 2013

Dengan sedikit tergesa gesa saya menuju pool PO yang ber tag line "Sabar Sopan Senyum" ini. Jam sudah menunjukkan pukul 10.55 artinya kurang 5 menit dari jadwal yang tertera di tiket. Sampai di depan pool terlihat sebuah bus berwarna hijau putih berbody marco dengan stiker Mercedez Benz 1725 Euro 2 sedang parkir. Kode di kaca depan bertuliskan LE 441. Kontan saja badan saya jadi lemas. Saya langsung membayangkan 24 jam di atas cooler dan menjadi bulan bulanan bis-bis lain. Lapor ke kantor, saya langsung diminta naik. Begitu masuk kabin kembali petaka saya dapatkan. Kabin bus ini terlihat begitu sempit dengan kombinasi seat 8 baris kiri dan 9 balis kanan plus smooking area. Seat berwarna hijau bertuliskan “Fainsa” yang dipakai juga terasa sempit dan tipis. Asyem, tiket mahal seharga 325 rb hanya ditukar dengan dengan bus tua dengan seat yang mefet. Kekesalan ini sempat saya lontarkan di media sosial yang langsung dapat respon dari rekan2 bismania lainnya.

Tiket PO ini memang paling mahal diantara kompetitornya. Akas hanya membandrol trayek Jember Jakarta dengan 280 rb, OBL 300 rb, dan Rosin 315 rb. Pahala Kencana (PK) saya kurang tau, biasanya gak jauh beda dengan si Ijo ini tapi tidak pernah lebih mahal. Kekecewaan saya sedikit terobati dengan jadwal keberangkatannya yang on time. Jam 11.05 bus ini sudah bergerak meninggalkan pool. Dengan kawalan petugas kantor cabang Jember bus ini diarahkan ke SPBU dekat terminal tawang alun Jember. Terlihat Akas Asri masih standby di agennya. OBL belum nampak, dan saat saya berangkat tadi PK bisnya belum nongol di agennya. Di SPBU yang juga sering menjadi tempat menginap bus2 yang tidak punya garasi di jember ini si Ijo menegak solar sebanyak 100 liter. Struk pembelian solar dibawa oleh petugas agen Jember yang turun begitu bis ini kembali lewat depan agen. Apakah ini yang dimaksud dengan solarnya dijatah? :-)

Zakaria, begitulah nama yang tertulis di seragam driver 1 bus ini. Pria paruh baya itu membawa New Marcopolo ini dengan halus. Lho cooler suspensi ini kok terasa keras? Tarikannya kok cukup responsif? Jangan-jangan ini bukan MB 1521, pikirku. Kuperhatikan detail dashboard bus ini, stirnya agak kecil. Hmm OH 1525 nih kayaknya. Saat bus ini berhenti di Agen Lumajang saya sempatin untuk turun dan melihat overhang depan bus ini, tidak salah lagi ini MB 1525.. hehehe. Ternyata stiker 1725 yang membuat saya langsung ill feel dan langsung mencap bus ini sebagai cooler yang merupakan spesies terbanyak di PO ini. Saya juga sedikit tertipu oleh overhang depan sebelah kanan bus ini. Karena tidak ada pintu driver membuat samar tampilannya. Dah hampir 3 tahun menjadi bismania ternyata masih saja belum bisa mbedain 1521 dan 1525... hehehe

Sample picture
Gaya mengemudi pak Zakaria membuat saya sedikit optimis bus ini tidak akan menjadi bulan bulanan bis bis lainnya. Di jalur Jember Lumajang bis ini beberapa kali di pacu sampai 90 Kpj. Di jalur lumajang Probolinggo nampak pak Zakaria juga berani menempel rapat truk truk yang gak kuat menanjak untuk selanjutnya mendahuluinya begitu kesempatan datang. Di jalur Probolinggo – Pasuruan mercy elektrik ini juga mampu mengasapi Restu dan Tentrem odong-odong serta patas Ladju.

Di Pasuruan terjadi pergantian driver. Pak Suparno yang baru naik bis ini di daerah Grati langsung bertugas dibelakang kemudi. Gaya mengemudi driver yang juga sudah senior ini tidak kalah halus dengan Pak Zakaria. Jam 15.10 bus masuk tol Porong. Catatan waktu yang cukup cepat menurutku, karena rata2 bus bus dari Jember baru masuk tol porong sekitar jam 15.30 – 16.00. Jarangnya bis ini berhenti di agen2 kecil membuat waktu tempuhnya cukup baik. Di tol Porong – Surabaya sampai gresik LE 441 ini berjalan selayaknya bus malam bertrayek jauh. Angka 100 sering ditunjukkan jarum speedo meter. Sepertinya bis ini bisa bersaing dengan bus2 jurusan Jatim– Jakarta lainnya, batinku .. hehe.

Akhirnya jam 15.50 LE 441 ini keluar tol Gresik. Masuk terminal bunder, lalu isi BBM. Lumayan perjalanan sampai Lamongan belum ada satu bispun yang mampu mendahuluinya, bahkan di daerah Duduk Sampean B 7706 IV ini mampu melewati bumel Sabar Indah. Lepas Lamongan gaya asli Lorena masa kini dari B 7706 IV ini mulai keluar. Jarum speedometer tidak pernah sekalipun menyentuh angka 80 Kpj. Sepertinya 60-70 Kpj adalah angka keramat yang harus dipertahankan. Mudah-mudahan saja bis2 Surabaya, Malang, Madura pada berhenti di agen2 sepanjang Lamongan, Babat sampai Tuban, sehingga singgasa bus ini tidak ada yang merebutnya, *:D big grin . Doa saya ternyata terkabul sampai finish di Rumah Makan Taman sari di Tuban, keperawanan si LE 441 masih bisa terjaga. Hanya truk2 berdaya 120-130 PS yang berkali2 mengasapi moncong si marcopolo ini.. hehehe
 

Di rumah makan ini telah terparkir Gunung Harta, Malino Putra Galaxy exl MPR 03, dan Kramad Djati Malang - Bandung. Kok mbak KD ada di taman sari ya? biasanya di RM Mitra, apakah sudah pindah ke lain hati, seperti saat pindah dari pelukan Anang Hermansyah ke Rahul Lemos? Xixixixi. Tidak berapa lama kemudian menyusul temannya LE 421 cooler body RS. Cukup lama si marco ini berhenti di Taman Sari ini, sampai semua bus yang saya sebutkan tadi berangkat busku masih saja santai di parkiran rumah makan. Bis ini baru bergerak dari Rumah makan saat Gunung Harta yang tadi sudah jalan sekitar 15 menit harus kembali ke rumah makan karena 1 penumpangnya tertinggal di Taman Sari. Hehehe, pasti sang kernet itu bis dimarahin habis sama drivernya. Jam saat itu menunjukkan pukul 18.30, lingkar kemudi kembali di tangan Pak Zakaria. Saya terus menunggu aksi pak Zakaria di malam hari, semoga lebih greget daripada yang ditunjukkan tadi siang. Tapi sampai masuk perbatasan Jatim - Jateng kok masih memble aja, masih khas lorena jaman sekarang.. wkkkkk, akhirnya sayapun tertidur, *I-) sleepy
 
(bersambung)

Kamis, 05 September 2013

A Caper "Catatan Perjalanan" that changes my lifestyle

Berawal dari tugas ke Semarang & Salatiga sekitar April 2010, dimana saat itu aku masih tinggal di Sidoarjo sedangkan istri di Ciledug - Tangerang. Menjalani hidup sebagai commuter Sidoarjo - Jakarta - Tangerang lebih banyak kulewati dengan burung besi berkonsep LCC maupun ular besi. Citilink, Air Asia, Lion Air, Sembrani dan Gumarang terasa begitu akrab dengan weekendku. Bahkan web Semboyan 35 merupakan salah satu web yang sering kukunjungi di saat waktu senggang, meskipun aku belum pernah tergabung di dalamnya. Tugasku ke tengah pulau jawa itu selesai sehari sebelum long weekend, jadi tidak mungkin rasanya aku harus balik ke Sidoarjo. Berpisah dengan rekan-rekan kerja yang lain di perbatasan Salatiga dan Kabupaten Semarang. Disini aku bingung harus naik apa ke Jakarta. Dengan bermodal HP N*k*a boncel yang alhamdulillah sudah bisa mengakses GPRS akhirnya aku menemukan jawabannya, "iya" ke terminal Bawen untuk selanjutnya mencari bus tujuan Jakarta.

Setelah bernego dengan mas agen segala macam bus (jualan utamanya sih patas Ramayana) akhirnya aku memilih Kramad Djati kelas VIP untuk tujuan Lebak Bulus. Sempat bingung kelas VIP itu apaan? yang aku tau selama ini ya cuma ekonomi, ATB, Patas, Exe, dan SE.. ndeso hehe. Kramat Djati menjadi pilihanku saat itu karena yang ada di benakku bis tujuan Jakarta itu ya cuma Lorena, Pahala Kencana, Safari Dharma Raya dan Kramat Djati (maklumlah di Jember adanya cuma itu..hehe). Sambil menunggu jadwal keberangkatan yang masih sekitar 3 jam lagi, kuteruskan penelusuranku ke dunia maya mengenai alat transportasi yang akan mengantarku ke Ibukota tersebut. Sebuah tulisan berjudul "Gajah Sprinter, jagonya sprint" begitu memikat hatiku (Catatan perjalanan dari Didik Edhi di www.bismania.org). Ternyata ada juga ya orang yang begitu mengenal spesifikasi bus, dan sangat menikmati perjalanannya. Terus terang sampai saat itu bis masih merupakan alternatif terakhir jika alat transpotasi lainnya gagal kudapatkan, entah itu karena kehabisan tiket atupun harga tiketnya yang tak terjangkau. Sebenarnya aku sudah beberapa kali merasakan Ngebis jarak jauh, Lorena (Jember - Jakarta), Safari Darma Raya (Jember - Jakarta), Mawar (Surabaya-Jakarta), Akas/Mila (Jember-Jogja) dan yang paling spektakuler Jember - Bengkulu dengan Damri kelas Ekonomi saat masih kuliah dulu, tapi semuanya tidak bisa kunikmati seperti sang pujangga yang sedang ada di kabin Gajah Sprinter tersebut.

Mencoba mencari jawaban dengan bantuan konsep bertanya "5 mengapa?" kesimpulan yang bisa kuambil adalah "mungkin karena mengerti banyak tentang dunia perbisan makanya sang pujangga yang menunggangi gajah sprinter tersebut bisa menikmati perjalanannya". Hampir 4 jam aku menelusuri dunia maya yang mengupas tuntas dunia perbisan tersebut. Tak terasa menjelang magrib bus yang akan mengantarku ke ibukota pun datang, terlambat hampir 2 jam dari jadwal semula, akupun bergegas naek dengan mendapatkan sedikit gambaran tentang komunitas pecinta bis yang menamakan dirinya sebagai "bismania". Jam 06.00 keesokan harinya bus Kramad Djati jurusan Ponorogo - Ciledug yang kunaikipun finish di terminal Lebak bulus, penumpang tujuan Ciledug diantar ke terminal Lembang dengan isuzu elf.

Setelah 2 hari menghabiskan waktu dengan istri tercinta tibalah saatnya berburu tiket untuk balik ke ladangku di Sidoarjo. KA dah gak mungkin dapat, burung besi sudah pasti harganya selangit. Akhirnya aku mengajak istriku ke garasi OBL di Kebayoran Lama, dimana sebelumnya aku menunjukkan caper tentang Gajah Sprinter yang sangat menginspirasiku memilih gajah untuk kembali ke Sidoarjo. Selama ini istriku masih membayangkan bahwa naek bis itu ya seperti naek bis kota di jakarta. Kalo gak super ugal-ugalan seperti Metro Mini/Kopaja ya bis yang super lemot seperti Bianglala AC 44, dengan kabin yang sempit dan jorok. Bis paling bagus yang pernah dinaikinya mungkin hanya bus PATAS Surabaya - Jember .. . Akhirnya pulang ke Sidoarjo aku menggunakan Armada sang gajah, meski sedikit telat masuk Surabaya tapi kebersihan kabin dan kenyamanan perjalannya mulai sedikit aku nikmati. Sebulan setelah itu istri, mertua dan adik iparkupun ikut merasakan naek gajah dari kebayoran menuju Jember. Ternyata mertuaku cukup puas, dengan pelayanan Gajah dari kebayoran tersebut.

Rasa penasaranku akan komunitas bismania semakin menjadi. Berbagai tulisan dan laman tentang dunia perbisan mulai kugali-satu persatu. Di sini aku mulai mengetahui ternyata komunitas penggemar bis itu cukup banyak. Bahkan lebih banyak variannya daripada komunitas pecinta kereta (rail fans) maupun pecinta dunia penerbangan (Indoflyer).Dalam beberapa bulan penelusuran aku mulai akrab dengan istilah 1525, 1521, 1518, RK, RG, overhang, ngeblong, sarkawi, intercooler, king, dll. Dan topik yang paling kucari pastinya adalah catatan perjalanan (caper). Beberapa caper yang selalu kuingat adalah caper-caper penuh makna dari Pak Didik SS, Caper arjuna mencari cinta dalam serial Kiperpon, caper-caper jenaka ala Koh Hari BW, caper penuh prosa ala Mas Didik Edhi dan caper-caper luar biasa dari rekan-rekan lainnya, baik itu dari bismania.org maupun blog pribadinya masing-masing. Ternyata naik bis akan sangat menyenangkan jika diabadikan dalam sebuah tulisan.

Alhamdulillah sekitar pada September 2010 akhirnya aku diminta pindah ke kantor pusat perusahaan tempatku bekerja di Jakarta. Sungguh nikmat tersendiri bisa bekerja di tidak jauh dengan istri. Sekitar oktober 2010 akhirnya aku memilih bergabung dengan maillist tercinta ini. Sayang sekali aku baru menemukan komunitas bismania ini di saat-saat akhir menjadi seorang komuter. Aku justru menjadi seorang bismania disaat kondisi sangat jarang mencicipi perjalanan dengan sebuah bis. . Kurang lebih setelah tiga bulan bergabung dengan maillist bismania barulah aku merasakan naek bis jarak jauh kembali. Dan rasanya memang beda, meskipun Pahala Kencana yang kunaiki saat itu mengalami trouble tapi aku masih bisa menikmati perjalan tersebut. Empat bulan kemudian aku berkesempatan mencicipi jetbusnya akas Asri yang masih gress dan langsung kuabadikan dalam sebuah Caper.
Kenikmatanku sebagai bismaniapun bertambah ketika aku mendapatkan rejeki untuk mencicil sebuah rumah mungil yang tembok perumahannya langsung berbatasan dengan terminal Poris Plawad di Tangerang. Meskipun kalo ada kopdar di poris juga masih sering titip absen saja . Boleh dibilang untuk saat ini naik bis menjadi kebanggaan tersendiri bagiku. Entah mungkin aku sudah bosan dengan penerbangan yang hampir tiap minggu kulalui dengan lebih banyak delay atau sebab lainnya. Yang pasti aku selalu punya cerita ketika menaiki sebuah bus, kondisi yang tidak pernah kudapatkan saat menjadi penumpang ular atau burung besi.


Diposting pertama kali di Maillist bismania community 11 Juni 2012